Soal Pipa, Tergantung Purnomo Juni 17, 2008
Posted by turyanto in Energi.Tags: Migas
add a comment
BOLEH jadi, jika mega proyek pemipaan gas ke Jawa tuntas digarap, maka tiada lagi berita industri di pulau ini berteriak-teriak cuma lantaran kekurangan pasokan bahan bakar atau bahan baku. Sebab, harus dimafhumi, dibandingkan dengan pulau lain, Jawa adalah yang paling rakus mengonsumsi energi.
Lihat saja, dengan penduduk lebih dari 140 juta jiwa, pulau tersebut menyerap sekitar 62 persen dari total kebutuhan energi nasional. Besaran ini tentu tak berimbang. Mengingat, sumber energi di Jawa kian lama toh makin terkuras. (lagi…)
Defisit Gas Masih Terjadi Juni 17, 2008
Posted by turyanto in Energi.Tags: Migas
add a comment
PERSOALAN gas bumi di tanah air bak tiada ujung. Meski diakui, sebenarnya pangkal masalah semua itu sudah begitu jelas: akibat tiada keseimbangan antara alokasi gas domestik dengan ekspor.
Pemerintah juga tak pernah tinggal diam untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya, dengan menyusun neraca gas yang dirilis pada medio tahun lalu untuk mengetahui nilai pasti kebutuhan gas bumi nasional. (lagi…)
Domestik Dulu, Baru Ekspor Juni 17, 2008
Posted by turyanto in Energi.Tags: Migas
add a comment
KALANGAN industri meminta pemerintah tidak membuat kontrak baru ekspor gas sebelum kebutuhan domestik mampu terpenuhi. Langkah tersebut dinilai mendesak, menyusul nasib sejumlah industri masih begitu tergantung pada ketersediaan pasokan gas nasional.
Ketua Umum Asosiasi Industri Aneka Keramik Indonesia (Asaki), Achmad Widjaya mengatakan, sudah tiga tahun terakhir pasokan gas untuk industri tidak stabil. Baik itu secara kualitas atau pun kuantitas.
Dia memisalkan, tekanan gas yang dipasok ke industri keramik selama ini hanya 0,5 bar atau paling tinggi satu bar. Padahal, industri itu membutuhkan pasokan gas dengan tekanan tujuh bar hingga 10 bar. ”Tentu saja kondisi ini membuat industri keramik tak bisa berproduksi maksimal,” katanya. (lagi…)
Birokrasi Deptan Berbelit Juni 16, 2008
Posted by turyanto in Agribisnis.Tags: Pertanian
add a comment
KALANGAN pengusaha mengeluhkan sistem birokrasi di Departemen Pertanian (Deptan) yang sampai kini masih berbelit-belit. Penilaian itu muncul setelah sejumlah surat izin yang masuk ke lembaga tersebut belum juga disetujui dan terus ditangguhkan. Setidaknya, sekarang terdapat 107 surat persetujuan pemasukan (SPP) yang masih numpuk di Deptan hingga lewat 40 hari. Sampai akhir pekan lalu, dari 107 SPP itu terdapat 97 berkas lain yang justru belum diteken. (lagi…)

