Rusdi Kirana, “Ditolak Cewek”

Posted on Juni 7, 2008

15


 

BAGI kebanyakan orang, tentu dia akan marah habis-habisan, jika suatu bisnis, usaha, atau idenya ’dibunuh’ lantaran motif persaingan dagang. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang pada akhirnya mendendam. Lantas, muncul niatan buruk untuk membalas lebih kejam dari apa yang telah dilakukan si ’pembunuh’ tersebut kepada dirinya.

Namun, Rusdi Kirana, President Director Lion Air, punya resep berbeda untuk memaknai soal perasaan dendam-mendendam tersebut menjadi energi yang teramat luar biasa dalam mengepakkan potensinya. Malah, dia tak menafikan apabila gara-gara aksi si pembunuh karakter itu, usaha maskapai penerbangan Lion Air yang dia rintis, justru makin terdorong menjadi lebih besar.

Lho i am fine! Di tuding ini, ono! Dibunuh karakternya. Malah saya senang lho pak! Benar, karena dengan begitu, artinya bisnis saya ini diperhatikan semua orang!” tuturnya ringan.

Memang, saat awal-awal merintis bisnis penerbangan pada 2000, hujan kritik membajiri usaha Rusdi. Lion Air, maskapai yang ia namai, dituduh telah menjalankan praktek bisnis tidak sehat dengan menjual tiket murah.

Sejak kehadiran bisnis Rusdi itulah, persaingan antarmaskapi penerbangan semakin menjadi-jadi. Ada propaganda melalui iklan di media yang pada akhirnya, maksud iklan tersebut untuk saling menjatuhkan.

Perang tarif pun dimulai. Ujung-ujungnya, naik pesawat tidaklah se-wah seperti dulu. Sebab, tiket pesawat dijual tak jauh berbeda dengan kereta api, bus patas, atau moda angkutan laut. Sejumlah maskapai pun perlahan-lahan mengurangi fasilitas ke penumpang. Bahkan, ada tudingan aspek keselamatan mulai diabaikan.

Bisnis udara yang ’kisruh’ tersebut sejak kehadiran Lion Air dengan tiket murahnya, menarik perhatian Komisi V Dewan Perwakilan Rakayat (DPR). Rusdi pun lantas dipanggil. Dia diintogasi. Malah, ada anggota DPR yang menilai ia tak nasionalis! 

”Saya ditanya, ‘Anda melakukan money loundry’. Lalu saya katakan, gak usah money loundry, nyuci baju saja gak bisa. Kalau bisa begitu, di belakang nama saya itu ada Phd, itu yang bisa. Tapi, kalau sekolah saja gak, mana mungkin saya bisa?” ungkapnya sambil terkekeh. “Kemudian ada lagi yang nuding, saya tak nasionalis. Lho saya lahir ini saja 17 Agustus kok!”

Di luar itu semua, Rusdi punya kisah menarik. Dia pernah ditolak perempuan gara-gara tak punya sepatu Puma. “Sampai hari ini masih kebayang terus. Saya cari itu perempuan. Kalau sampai ketemu saya kirim satu truk sepatu puma.”

Itulah sosok Rusdi. Supel, sederhana, visioner, humoris, dan ramah. Kesan ini pula ditangkap Jurnal Nasional sewaktu berbincang-bincang dengan dia di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Berkemeja putih terbalut jaket hitam, ia sama sekali tak terlihat seperti seorang parlente. Atau bahkan, seandainya saja sedari awal tak dikenalkan bahwa dia adalah Presdir Lion Air, maka siapa sangka jika sosok berpenampilan seperti Rusdi adalah orang nomor satu di perusahaan.

Secara lancar, Rusdi pun menjawab satu per satu petanyaan yang dilontarkan saya soal Lion Air dan isu-isu terkait dunia penerbangan di Tanah Air. Ia pun berbisik, ”Kalau di luar negeri orang seperti saya otaknya harus setara dengan Bill Gates. Saya gak sekolah. Tapi kini bisa miliader. Itulah hebatnya Indonesia.”

Dalam bisnis penerbangan, ada dua hal yang penting, pertama soal tarif dan kedua kepercayaan. Semua tahu kalau Lion Air  itu murah meriah. Tapi mengapa Lion tetap populis? Ada trik khusus?

Mungkin dari saya pribadi, karena Lion Air merupakan air line pertama yang merintis harga murah. Contoh kalau Anda mau beli air mineral, selalu bilang Aqua. Perempuan mau beli pembalut, pasti bilang Softex. Ini sama. Karena masyarakat menengah ke bawah, kalau mau naik pesawat, ya Lion.

Kedua, kami memang menunjukkan kepada masyarakat, bahwa perusahaan in tak menawarkan neko-neko. Kami tak menawarkan bahwa Lion Air itu on time. Walaupun kami bisa on time. Kami tidak banyak berjanji kepada masyarakat.

Lion  Air, tak seperti air line lain yang mengusung selogan, terbang dengan nyaman. Ada lagi, penerbangan yang dipercaya. Itu kan menimbulkan ekspestasi.

Apakah hal itu tidak menjadikan hal yang bisa merugikan Lion Air sendiri?Artinya, masyarakat akan menilai  maskapai ini kurang dalam pelayanan?

Kalau kami pokoknya sederhana. Anda naik pesawat kami, pokoknya akan kami usahakan antarkan berangkat dari kota A ke kota B. Kalau misalkan delay harganya toh dengan kereta api mirip. Kalau naik kereta api 12 jam, delay satu jam apa ruginya.

Karena kami tahu, kalau ada air line di Indonesia yang mengatakan on time saya tidak percaya. Banyak yang menyebabkan tidak on time. Terutama pada siklus penerbangan di bandara.

Jadi kalau ada perusahaan penerbangan domestik yang menjanjikan on time, itu tidak mungkin. Karena itu, kami tidak ingin menimbulkan ekspetasi. Kalau Lion Air, delay ya memang begitu. Sudah biasa. Tapi kami kan berusaha agar tidak seperti itu terus. Kami sedang berusaha.

Langkah yang akan ditempuh untuk mencapai itu semua?

Contohnya begini, dengan uang di bawah US$1 juta waktu merintis usaha ini, kami sekarang sudah bisa membeli 60 pesawat baru. Kami akan membuat mata dunia melihat maskapai ini pada April. Karena setelah kami memakai pesawat ini, itu diikuti oleh kontinetal air line di Amerika. Kemudian diikuti oleh Korean Air Lines, lalu di Eropa. Mereka akan melihat ke kita.

Dengan pesawat baru ini, kami bisa jual tiket lebih murah lagi. Ini betul. Karena dengan pesawat baru ini body-nya gak disambung-sambung lagi. Tapi dicetak. Lebih enteng, lebih kuat, lebih hemat bahan bakar. Nah, nanti kalau kami pakai muatannya lebih banyak.

Tidak takut disalahkan lagi dengan menjual tiket murah?

Ya,  kalau ada yang seperti itu, saya berterimakasih. Dulu di 2003, saya berterimakasih sekali bisa dipanggil DPR. Saya diintrogasi. Tapi saya buktikan kepada mereka kenapa saya bisa jual murah. Saya ditanya, ada isu saya money loundry. Lalu saya katakan, gak usah money loundry, nyuci baju saja saya gak bisa. Kalau saya bisa begitu, di belakang nama saya itu ada Phd, itu orang yang bisa. Tapi, kalau sekolah saja gak, mana mungkin saya bisa?

Kemudian saya dituding tidak nasionalis. Lho saya lahir ini saja 17 Agustus kok! Sudah ditulis ini. Kamu bangsa Indonesia, lahir 17 Agustus, Indonesia merdeka kamu lahir. Mana mungkin saya tidak nasionalis?

Tudingan-tudingan seperti itu pasti  sudah diperkirakan sebelumnya? Bagaimana Anda menghadapi?

Saya menganut lagu, jadi kalau kita tertawa lihat dia menangis, kalau kita menangis lihat dia tertawa, kalau susah melihat orang senang, kalau senang melihat orang susah. I am fine. Saya biasa. Dituding begini begitu. Tapi kita kan dapat kompensasi. Dari tudingan-tudingan itu. Dan semua sudah diatur. Sekarang saya ditunjuk sebagai ketua alumni Universitas Pancasila, saya ditunjuk sebagai Asosiasi perusahaan penerbangan.

Kalau pencapaian bisnis kan,  Anda secara pribadi sudah mulai tercapai. Langkah Anda selanjutnya? Misalnya dipanggil negara bagaimana?

Kalau saya yang ditanya, apakah yang bisa saya perbuat untuk diri dan negara saya cuma mau bilang resiko tak ada. Kalau bicara uang, saya tak terhambat. Hari ini Anda bisa ajak ke tempat saya tinggal. Saya hanya punya satu kasur. Kulkas saya kosong.

Karena apa, kepuasan itu bukan karena uangnya. Tapi kepuasan itu kalau Anda diakui. Perusahaan ini sudah ditawar asing dari dua tahun lalu. Tapi, saya masih bertahan sampai sekarang, karena saya ingin tunjukan saya mampu. Setelah mampu saya baru jual.

Sampai hari ini yang masih saya penasaran adalah, saya belum diakui sebagai air line yang baik. Sebagai penggerak transportasi udara memang kami diakui. Tapi sebagai air line yang baik, kami belum diakui. Nah, saya ingin bergerak pada sekian tahun ini bisa diakui. Jadi kalau suatu hari Bapak mengajak, masuk politik, ya bisa saja deh pak.  

Ukuran pengakuan itu sampai kapan?

Sampai satu hari ada orang yang mengatakan, tiket kamu murah dan baik. Kalau sekarang baru ada yang bilang, murah tapi kurang baik. Saya mengawali usaha ini, ada kata-kata yang harus dicontoh, murah dan baik. Membuat murah itu mudah, tapi membuat baik itu susah.

Dan menuju baik ini, saya masih proses. Saya belum baik. Banyak hal yang perlu kita benahi. Tapi minimal saya sudah bisa memberi pekerjaan 4.200 orang. Plus, memberikan pajak kepada negara. Saya mendapatkan sebagai salah satu pembayar pajak terbaik. Wajib pajak teladan.

Jadi untuk saya, Indonesia itu sangat-sangat luar biasa. Untuk bisa seperti saya, kalau di Amerika otaknya harus seperti Bill Gates. Ga bisa orang seperti saya. Sekolah gak, hanya calo tiba-tiba kaya raya.  Di Singapura orang kerja puluhan tahun ga bisa. Di India, Jepang, Amerika Serikat ga bisa.

Kalau melihat perjalanan karir Anda bisa disebut luar biasa. Dari calo menjadi Presdir.  Ada filosofi tersendiri dalam hidup?

Mungkin, saya lebih banyak era at labora. Saya berdoa dan berusaha. Membuka edukasi dan dedikasi. Kalau bicara falsafah saya tak punya. Hanya saya merasa senang kalau misalnya dengan pembunuhan karakter ini itu menunjukkan kita something. Kalau tidak something itu tidak ada yang dibunuh. Dan yang berusaha hidup yang normal.

Sebagai contoh kalau saya ke Singapura. Saya gak mau naik executive. Mahal. Saya naik ekonomi. Lebih murah. Karena kembali menurut saya, bekerja itu motivasi. Jangan sampai kita memandang dari kemehannya. Sebab, kalau kita lihat karena uangnya, saya juga bisa naik executive.

Tapi, apa yang terjadi di saya? Mau makan juga susah. Bahkan, saya pernah ditolak sama perempuan yang saya sukai gara-gara sepatu Puma. Saya sampai hari ini cari itu perempuan. Kalau sampai ketemu saya kirim itu satu truk sepatu puma. Tahun 1978 saya ditolak sama perempuan.

Dia bilang ke saya, kalau dari muka kamu lebih ganteng. Tapi kamu tak punya Puma. Akhirnya saya pilih dia. Sampai hari ini masih kebayang terus. Tapi saya bersyukur. Kalau dia mau sama saya, saya susah juga. Karena dia gadis billiar.

Sekarang saya punya istri yang sangat religius, sederhana, ibu rumah tangga, beli baju saja hanya US$10, celana jeans. Tapi saya bilang kemana mana soal cewek itu. Tapi belum ketemu-ketemu. Kalau ketemu saya kirim satu truk itu sepatu Puma.

Maka setiap kali diwawancara saya ngomong, agar dia baca. Jadi sekarang begini pak, makin kita dilecehkan, makin kita diremehkan, makin termotivasi diri kita.

Kalau perkembangan air line domestik sendiri?

Dalam hitungan dua atau tiga tahun ke depan air line di Idonesia akan berubah. Dari sisi produk. Tidak tua lagi. Selain government perhubungan udara membuat aturan. Juga pesawat tua. Karena pesawat yang sudah tua dengan kondisi saat ini itu boros akan minyak. Sedangkan harga minyak tinggi. Ini tidak kehitung jika terus menggunakan pesawat yang tua.

Posted in: Obrolan Tokoh