Sang Hyang Seri Usung Benih Lokal

Posted on Juni 11, 2008

0


PT SANG Hyang Seri lagi sigap berbenah. Tak melulu urusan pasar benih saja yang terus diburu, kini perseroan tersebut juga tengah menyiapkan konsep benih padi berciri aseli Indonesia.

Tujuannya, agar masyarakat di seluruh penjuru Tanah Air bisa turut bangga menikmati beras bercita rasa khas Indonesia. Jadi, tidak sekedar terbius oleh cita rasa produk beras impor yang selama ini masih ikut meramaikan pasar pangan di dalam negeri.

Direktur Utama PT Sang Hyang Seri, Edi Budiono mengatakan, ada dua hal penting yang tengah digarap oleh perusahaannya untuk mendukung program peningkatan produksi beras nasional sebesar dua juta ton per tahun yang kini sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Pertama, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor benih, PT Sang Hyang Seri berkewajiban memasok permintaan produk tersebut di tingkat petani sekaligus menjamin ketersediaanya di pasar ketika dibutuhkan. Kedua, perseroan juga harus turut mendorong peningkatan penggunaan benih padi unggul bermutu oleh petani sehingga produksi nasional per hektare komoditas itu meningkat.

Namun, di luar tanggung jawab ini, ujar Edi, perusahaannya juga berkepentingan untuk merintis benih padi berciri aseli Indonesia yang akan menghasilkan jenis beras bercita rasa lokal. Sebab, bila ini berhasil, selain produksi padi nasional yang terdongkrak, beras asal Indonesia juga bakal memiliki penggemar khusus dan ciri istimewa yang membedakan dengan produk dari negara lain, seperti Vietnam dan Thailand.

”Ini semacam untuk menciptakan nasionalisme di industri benih. Petani bangga menanam varietas padi aseli Indonesia. Negara ini kan banyak memiliki nutfah yang bisa dikembangkan jadi benih padi unggul. Mengapa harus benih impor?” kata Edi.

Menurut dia, sejak revolusi hijau 1971, geliat industri benih memang sudah begitu terasa. Khusus benih padi, saat itu pemerintah memprogramkan mengubah varietas unggul lokal dengan kemampuan produksi maksimal 4 ton per hektare menjadi varietas unggul baru (inbrida) yang berproduksi maksimal 7 ton per hektare.

Dari program ini, swasembada beras pun berhasil dicapai pada 1984. Meskipun dulu benih bukan menjadi fokus perhatian pemerintah dalam upaya menggenjot produksi beras nasional. Pemerintahan Orde Baru (Orba) waktu itu, lebih gencar melakukan usaha ekstensifikasi pertanian berupa pembukaan lahan sawah baru, jaringan irigasi, dan penggunaan pupuk kimia ketimbang menganjurkan petani memakai benih padi berlabel.

Namun, kini seiiring kenaikan pertumbuhan penduduk, produksi beras itu dinilai sudah tak mencukupi lagi. Apalagi, total lahan sawah di Indonesia dari dulu hanya berada pada kisaran 11 juta hektare saja.

Bahkan, sampai 2006 lalu, muncul gejala pelambatan pertumbuhan produksi beras nasional dan hampir leveling off. Sementara, permintaan beras meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk tanpa ada pengurangan konsumsi beras per kapita per tahun.

”Nah, dari situ pemerintah sadar. Apa yang salah? Intinya kan pada benih. Lha wong luas lahan sawah tetap kok! Ternyata, diketahui selama lima tahun terakhir sebelum 2006 permintaan benih padi unggul hanya 35 persen. Kecil sekali!” tukas Edi.

Akibat permintaan benih padi berlabel yang masih rendah tersebut, lanjut Edi, produksi padi nasional pun tak beranjak naik dari kisaran 53-56 juta ton per tahun dengan rerata produksi per hektare hanya 4-4,5 ton saja.

Padahal, ujar dia, benih padi berlabel bukannya tak tersedia di pasar. Namun, kesadaran petani untuk menggunakan benih tersebut masih rendah. Di samping, kemampuan belinya juga minim.

Karena itulah, sejak 2007, pemerintah lantas meluncurkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) yang memberikan subsidi benih unggul bermutu ke petani. Melalui program ini, tahun lalu permintaan benih padi berlabel naik sebesar 10 persen menjadi 45-48 persen.

”Produksi beras pun ikut naik 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini bukti nyata, jika benih diperhatikan, maka produksi beras ikut terdongkrak,” paparnya.

Kini, ujar Edi, setelah pemakaian benih padi inbrida mulai berkembang di tingkat petani, benih hibrida pun mulai muncul. ”Banyak swasta telah mengembangkan benih padi hibrida. Kami juga memulai. Produksinya memang bisa di atas 7 ton per hektare.”

Namun, lanjutnya, pengembangan padi hibrida bukan tanpa masalah. Dibutuhkan biaya yang lebih mahal ketimbang padi inbrida.

Contohnya, harga benih. Sebagai gambaran harga setiap kilogram benih hibrida mencapai Rp30.000–Rp50.000. Dengan penggunaan benih 15 kilogram per hektare, maka petani harus mengeluarkan biaya Rp450.000-Rp750.000 per hektare. Sedangkan, penggunaan benih inbrida per hektare hanya Rp150.000. Belum lagi biaya untuk mengendalikan hama penyakit, dan teknik budidaya yang berbeda.
Masalah lain yang muncul di tingkat petani ketika menanam padi hibrida adalah soal ketersediaan benihnya. Padi hibrida tak dapat ditanam lagi keturunannya. Dengan posisi sebagai pengimpor benih hibrida, maka situasi ini bisa mengancam bagi Indonesia.

”Petani harus beli lagi, beli lagi. Terus begitu setiap musim tanam. Jadinya tergantung. Kalau begini, yang sejahtera kan petani luar dong!” ungkapnya.

Karena itulah, tegas Edi, salah satu cara memutus ketergantungan itu adalah dengan mengembangkan hibrida nutfah Indonesia. Atau, bisa saja dikombinasikan dengan nutfah impor yang menghasilkan varietas baru.

PT Sang Hyang Seri, ujar dia, juga telah memulai mengembangkan kombinasi tersebut. Namun, pemerintah mestinya tak terburu-buru untuk menggalakkan penanaman padi hibrida di level petani dalam skala luas. Karena, ketersediaannya masih sangat bergantung pada impor.

Edi menuturkan, sebaiknya, pada tahap awal pemerintah lebih dulu melakukan penataan di industri benih inbrida domestik. Sebab, kini banyak industri berskala kecil yang ikut bermain memasarkan benih di petani tanpa memahami prosedur teknologi benih yang cukup memadai.

”Industrinya harus dibenahi dulu. Agar kemurnian benih bisa terjaga. Tak perlu dengan teknologi mahal. Secara sederhana pun bisa dilakukan. Ini langkah agar nanti industri benih di Indonesia siap memenuhi sendiri kebutuhannya,” kata Edi.

Setelah itu, barulah industri benih domestik bisa mengombinasikan antara benih impor dan lokal. Jadi, jika benih padi hibrida ingin dikembangkan secara massal di dalam negeri, ketersediaannya di tingkat industri benar-benar siap. ”Jadi, beras itu sudah bercita rasa Indonesia. Bukan lagi cita rasa China, Filipina, atau Vietnam.” [!]

Posted in: Uncategorized