KENCING SEMUT HITAM DONGKRAK PRODUKSI KAKAO

Posted on Juli 26, 2008

14


Bertanam kakao ternyata tak sekedar menyiapkan bibit, menanam, merawat, dan memetik buahnya. Namun, diperlukan percobaan yang terus berkelanjutan. Bila berhasil, untungnya berjibun. Dengan hanya memanfaatkan teknologi sederhana. Murah, meriah, ramah lingkungan, tapi berpeluang meningkatkan pendapatan berlipat-lipat.

Suprapno, petani Desa Sungai Langka Kecamatan Gedung Tatan, Lampung Selatan membuktikannya. Dia tak perlu merogoh kantong terlalu banyak, untuk merawat 8 hektare kebun kakaonya.

Bayangkan, dengan biaya produksi hampir 0% untuk perawatan, dia bisa memproduksi buah kakao 300 hingga 400 buah per tanaman. Setiap tahunnya dia mendapatkan 20 ton biji basah per hektare atau 1,7 ton biji basah per bulan. Bila harga kakao basah minimal Rp5.000 per kg, maka setiap bulannya Suprapno mendapatkan penghasilan Rp8,5 juta per hektar.

Padahal, teknologi yang digunakannya cukup sederhana. Kunci kesuksesan Suprapno hanya pada semut hitam, pupuk biomikro, dan teknik stek tunas. Dia tak perlu membeli pupuk Urea, TSP, atau KCl dari pabrik, pestisida, dan bibit-bibit unggul kakao yang mahal harganya. Justru dengan cara itu Suprapno bisa menekan biaya produksi.

“Orang selalu bilang, ‘kalau ingin untung besar harus dengan modal besar’, padahal cukup dengan semut hitam, pupuk buatan sendiri, dan rajin nyetek. Saya malah untung. Belum lagi hasil menjual bibit,” katanya.

Suprapno menunjukkan tiga tanaman kakao di depan rumahnya. Ada bibit ICS, hibrida, dan hasil setekan yang dibuatnya sendiri. Dari kakao yang telah berumur lima tahun itu, dia mengatakan kemampuan bibit berlabel hibrida dan ICS-yang dijadikan acuan para petani kakao umumnya-tidak menjamin hasil panen dapat maksimal.

Justru, kakao akan maksimal bila menerapkan metode peremajaan dengan okulasi tanaman bibit ke tanaman dewasa (induk) dengan cara sambung samping dan sambung pucuk pada batang induk kakao.

“Teknik sambung samping dapat ditujukan untuk rehabilitasi tanaman kakao agar dapat bertahan dalam berproduksi tinggi. Induk direkrut dari tanaman yang terbukti jelek,” jelasnya.

Teknik okulasi
Teknik perbaikan kakao Suprapno, disebut okulasi. Memang dengan teknik ini, pengerjaan lebih singkat, murah, dan cepat berproduksi. Melalui okulasi, setiap batangnya dapat menghasilkan buah lebih lebat.

Dari hasil okulasi yang dilakukan Suprapno, satu tanaman kakao bisa memproduksi 300-400 tongkol. Berbeda bila menggunaan bibit ICS atau hibrida. Kedua jenis bibit ibi hanya mampu berproduksi 2,5 ton biji kering per tahun.

Bandingkan dengan cara okulasi, hasil panen kakao bisa meningkat hingga 5 ton biji kering per tahun dalam satu hektar, sedangkan biji basahnya bisa mencapai 20 ton.

Cara penyetekannya, cabang induk harus yang mengarah ke atas, bukan yang menjulur ke bawah. Cabang yang di bawah harus dipangkas, sedangkan cabang yang arahnya ke atas selalu dijaga dan distek dengan entres (cabang sambungan) dari bibit yang unggul. Jadi tanaman kakao akan tinggi, yang memungkinkan hasil panen dalam jumlah besar serta mutu yang berkualitas karena berasal dari bibit unggul.

Dalam proses okulasi, kondisi sekitar tanaman harus kedap udara (anti air dan anti panas). Pilihlah entres dari berupa cabang berwarna hijau, hijau kecokelatan atau cokelat, berdiameter 0,75–1,5 cm dan panjang 40–50 cm. Caranya, sambungan dapat dibuka setelah 3– 4 minggu.

Selain itu, keberadaan daun dapat menyedot unsur hara yang diperlukan bagi buah. Jadi daun tak perlu terlalu lebat sehingga unsur hara banyak disedot ke buah.

Jika ketentuan tersebut sudah dilakukan dengan sempurna, diharapkan dalam waktu 20 hari setek akan tumbuh tunas. Cara meremajakan kebun tersebut dapat memberikan keuntungan besar buat petani.

Suprapno menyebut metode sambung silang sebagai cara meremajakan kebun dengan varietas baru yang tidak putus produksi. Satu tahun dapat berbuah di batang pucuk. Kemudian tahun kedua, buah-buah cokelat dapat dipanen di batang bawah. Dalam sekali panen, 300-400 tongkol didapat.

Dia menambahkan cara tersebut terbukti 99 persen berhasil. Lebih efisien karena petani tidak perlu menggunakan bibit lagi. Kalau menggunakan bibit maka petani harus melakukan penanaman lagi.

“Inikan tak efektif dan hasilnya tidak melimpah,” ungkapnya.

Kemudian, teknik budidaya dengan hanya menggunakan bibit memaksa petani harus membongkar tanah yang menyebabkan terganggunya unsur hara.

Suprapno mengakui, petani kakao umumnya kurang mengetahui teknik tersebut. Bukan hanya itu, banyak akademisi yang tidak tahu tentang metode jika kakao yang seumur 15 tahun dapat disambung dengan kakao yang berumur beberapa bulan selebar 2 cm seperti sapu lidi.

Karena sudah terbukti tokcer, dia menganjurkan petani cokelat agar menerapkan cara sambung samping satu pucuk. Di Sungai Langka, cara tersebut sudah diterapkan petani.

Hasilnya, produk panen kakao di sungai langka tidak pernah menurun. Pada 1997 saat krisis moneter, warga sungai langka justru kebanjiran uang karena panen kakao dengan harga yang relatif tinggi. Kala itu, harganya mencapai Rp18.0000 per kg.

Sekarang di Sungai Langka terdapat ribuan bibit yang berhasil disemai. Penentuan bibit diambil dari seleksi induk yang bagus. Banyak petani yang memesan bibit dari diri desa ini. Kebanyakan, memesan bibit yang siap tanam. Ada juga yang memesan dalam bentuk cambah dan dalam bentuk tongkol. Harganya murah. Cuma Rp1000.

Kalau beli 4000 bibit, harganya cuma Rp500. Bibit tersebut sudah siap tanam. Dalam menentukan bibit, ia melakukan seleksi dari buah berbentuk normal, sehat dan masak di pohon. Buah yang sehat berwarna kuning, jika diguncang timbul suara dan jika diketuk dengan tangan timbul gema.

Bibit yang baik harus memenuhi persyaratan, a.l. pertumbuhan bibit normal, yaitu tidak kerdil dan tidak terlalu jagur, bebas hama dan penyakit serta kerusakan lainnya serta Berumur 4 – 6 bulan.

Semakin lama umur tanaman muda, semakin dikurangi jumlah naungannya. Untuk tanaman kurang dari dua bulan, penyinaran matahari hanya diperlukan 25%-30% penyinaran, tiga bulan diperlukan 30%-40%, umur empat bulan 50%-70% dan lebih besar dari lima bulan diperlukan persentase penyinaran 70%.

Gunakan semut hitam
Di samping itu, dalam budidaya kakao semut hitam ternyata bisa menggantikan pengunaan insektisida dan fungisida. Memang, selama ini petani kakao menggunakan insektisida sebagai senjata ampuh membasmi hama kakao seperti penggerek cabang (Zeuzera coffeae), Kepik pengisap (Helopeltis sp.), Penggerek (Conopomorpha cramerella atau Cocoa Mot), Kutu putih (Planococcus citri), ulat kantong (Clania sp, Mahasena sp).

Hama-hama tersebut menyerang batang, buah, daun muda, kuncup bunga dan daging buah. Akibatnya, pertumbuhan buah kakao menjadi kerdil dan tidak mempunyai citarasa nikmat sesuai standar ekspor. Insektisida yang biasa digunakan adalah Baytroid 50EC, Lannate 25 WP, Sumithion 50 EC, Leboycid 50 EC, Orthene 75 SP. Serta insektisida yang mengandung monokrotofas, fosfamidon, karbaril.

Sedangkan fungisida dapat mengantisipasi penyakit pada kakao yang disebabkan jamur, seperti Botrydiplodia Theobramae, Oncobasidium Theobromae, Colletorichum sp dan Monilia roreri. Jamur-jamur tersebut menyebabkan penyakit busuk pada buah, akar dan kanker batang. Salah satu fungisida yang diakui ampuh dan efektif dalam mengendalikan jamur adalah Kocide 77WP.

Tapi, siapa sangka kalau penggunaan zat-zat kimia itu malah menjadikan kakao kerdil dan tak sehat. Selain itu, kalau dikonsumsi, kakao yang diproduksi dengan zat kimia dapat menyebabkan penyakit kangker, tumor dan diabetes bagi manusia. Zat kimia juga dapat merusak unsur hara pada tanah yang amat berfungsi bagi tumbuhan. Kakao yang diproduksi mengandung residu yang berdampak negatif bagi konsumen coklat.

Dosen Perkebunan Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Lampung, Sugiatno mengatakan penanggulan hama secara hayati dengan semut hitam merupakan pendekatan yang lebih aman. Sebab, katanya, hewan ini adalah agen pengendali bagi hama kakao, khususnya helopeltis.

“Hewan tersebut dapat menggantikan fungsi insektisida kimia. Mestinya pengendalian secara kimiawi hanya dilakukan jika perlu saja. Pemakaiannya pun harus selektif untuk menghindari dampak kerusakan lingkungan,” jelasnya.

Karena semut hitam tak mengganggu daun, bunga dan batang. Bahkan, dapat membantu proses penyerbukan tanaman kakao. Semut hitam bukan predator dan tidak memakan hama.

Namun, kencing semut hitam terbukti dapat menjadi senjata ampuh untuk mengusir hama penganggu tanaman kakao. Suprapno menjelaskan, semburan kencing semut hitam terasa pedih.

“Sehingga hama seperti belalang maupun penggerek cabang pada kabur,” jelasnya.

Diakuinya, semakin banyak semut hitam, semakin berkualitas coklat yang dipanen. Buktinya, hasil panen Kakao kawasan Sungai Langka sangat memuaskan.

“Cokelat pada gemuk dan berbuah mulus-mulus dan terbebas dari zat kimia,” terangnya.

Sebab itu, dia menyarankan agar di setiap tanaman kakao terdapat kandang semut. Cara membuat kandang sangat sederhana. Cukup dengan kantong plastik yang diberi beberapa lubang, lalu di dalam plastik tersebut diberikan tanah yang sudah menjadi pupuk. Kemudian diberikan daun kakao atau pisang dan bambu yang sudah kering. Diusahakan pula agar kandang semut selalu lembab.

Agar semut hitam dapat menjalar ke seluruh batang kakao, disarankan agar jarak tanam antar pohon sekitar 3×3 meter.

“Agar ada jembatan semut untuk lalu lalang,” paparnya.

Selain itu, Suprapno menyarankan agar kondisi tanah dibiarkan kotor oleh sersah atau dahan kering. Karena dapat menjadi tempat berkembang biak semut yang juga membantu proses penyerbukan.

“Biarkan kotor sehingga dari pangkal batang hingga ujung akan berbuah banyak,” jelasnya.

Petani umumnya selalu membersihkan tanah dari sersah. Akibatnya, buah kakao hanya tumbuh di atas pucuk pohon saja, tidak di sekitar batang bawah pohon.

“Ini kenyataan dan bisa dibuktikan di lapangan,” ungkap sambil menunjuk sebuah pohon kakao yang dari pangkal hingga ujung batangnya ditumbuhi buah kakao. Lantara semut
hitam, Suprapno membuktikan jika satu pohon kakao dapat menghasilkan 60 buah kakao.

Sayangnya, hingga kini penggunaan semut dalam budidaya kakao masih jarang dilakukan. Petani lebih percaya dengan isektisida dan fungsida. Padahal, selain tidak berdampak negatif dan hasil panen yang memuaskan, petani juga tidak dibebankan biaya. Berbeda dengan penggunaan insektisida dan fungsida. Untuk mendapatkan semut hitam, petani cukup mencari di sekitar daun kelapa.

Pupuk biomikro
Demikian pula dalam penggunaan pupuk. Untuk hasil masimal, hindarilah penggunaan pupuk yang dijual di pasar seperti Urea atau ZA (Sumber N), Triple Super Phospat (TSP) dan KCl. Sebab, produksi buatan sendiri malah lebih baik.

Pupuk ini disebut biomikro. Membuatnya, cukup menyediakan tanah seukuran 4×3 meter. Kemudian, diberikan papan sebagai penyangga pupuk yang diolah tersebut. Untuk membuat dua ton pupuk, diperlukan satu liter cairan biomikro, kotoran sapi, sekam dan dedak padi sebanyak satu truk, serta gula sebanyak setengah kilogram.

Prosesnya sangat sederhana. Kotoran sapi dicampur dengan sekam padi dan dedak padi yang sudah halus. Lalu diaduk-aduk hingga rata. Sedangkan cairan biomikro dicampur dengan gula dan air. Lalu, komposisi tersebut digabung menjadi satu di sebuah wadah besar yang dapat menampung komposisi tersebut.

Pengadukan dilakukan setiap hari guna rata. Kemudian diukur suhu panasnya dengan menggunakan termometer yang ditancapkan hingga ke dasar olahan pupuk tersebut. Kapasitas suhu panas harus 45–50 derajat celcius.

Jika kurang dari ukuran derajat tersebut, olahan tersebut tidak tidak akan jadi pupuk. Sebaliknya, jika suhunya melebihi takaran, maka campuran tersebut diaduk lagi sambil disiram denga air hingga suhu panasnya menurun. Selama 20 hari, olahan tersebut akan jadi pupuk.

Menurut Suprapno, olahan tersebut berhasil jadi pupuk jika tidak lagi berbau tahi sapi (teletong), “Kalau berbau tape, maka pupuk sudah jadi,” jelasnya. Jika sudah jadi, maka pupuk tersebut kemudian ditabur ke tanah tanaman bibit yang akan ditanam.

Dengan cara tersebut, dia mengaku, biaya yang dikeluarkan sangat minim. Kebutuhan pupuk pun selalu terjamin. Suprapno membuat pupuk tak tanggung-tanggung. Satu truk tahi sapi ia olah menjadi pupuk di kebunnya sendiri. Pupuk buatan harganya murah.

Kalau harga pupuk urea mencapai Rp60.000 per sak, Suprapno hanya menjual Rp10.000 per sak kepada petani. Tapi, umumnya petani belum percaya dengan pupuk alami buatannya.[!]

About these ads
Ditandai:
Posted in: Agribisnis