jump to navigation

Mahkota Dewa, Musuh Baru Aneka Penyakit November 26, 2008

Posted by turyanto in Agribisnis.
Tags:
1 comment so far

mahkota1DUNIA tanaman obat kini kedatangan “pendatang baru” yang lumayan hebat. Mahkota dewa namanya. Ia bisa membuat penderita penyakit ringan macam gatal-gatal, pegal-pegal atau flu, hingga penyakit berat seperti kanker dan diabetes, merasakan kesembuhan.

Buah tumbuhan mahkota dewa yang paling banyak digunakan sebagai obat.

Mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, Hi. Suprapno bernafsu melakukan pembibitan. “Saya punya ribuan bibit. Siapa yang berminat silakan datang,” kata warga Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedongtataan, Lampung Selatan (Lamsel) ini. (lagi…)

Bawang Merah, Urat Nadi Warga Brebes November 25, 2008

Posted by turyanto in Agribisnis.
Tags:
add a comment

jual beliSEKITAR 80 persen petani bawang merah (Allium cepa [Linn.]) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah berstatus buruh. Sekedar penyewa tanah atau berbagi hasil panenan dengan pemilik lahan. Tak salah apabila masyarakat sana menyebut: bawang merah adalah urat nadi bagi kehidupan kami!

Sebab, tak hanya hidup petani yang bergantung pada komoditas tersebut. Mulai dari kuli, tukang becak, para makelar, tengkulak, penyewa lapak, hingga pejabat berdasi turut maraup manisnya bisnis bawang merah.

Bahkan, dari 2,444 triliun produk domestik regional bruto (PDRB) yang di dapat Kabupaten Brebes untuk sektor pertanian pada 2005, 75 persennya berasal dari bawang merah. (lagi…)

Dijual Buntung, Tak Dijual Utang Melambung November 25, 2008

Posted by turyanto in Agribisnis.
Tags:
add a comment

asturiASTURI menatap. Getir. Baju biru yang ia kenakan pun, tak mampu membuatnya terlihat cerah. Debu yang beterbangan bersama deru mobil muatan yang melintas di sepanjang jalan perbatasan Siandong—Brebes, semakin membuat kusam mukanya.

Sekusam nasibnya kini, setelah harga bawang merah sebagai sumber pendapatan utama baginya, anjlok. Bahkan, dijual pun tak laku.

“Petani mau makan apa? Harga bawang murah mas. Mau dijual juga  susah,” ujarnya. “Memang sekarang harganya berapa, bu?,” tanya saya. “Per ons hanya Rp20. Padahal dulu sampai Rp40. Kalau satu gandeng  Rp16.000. Sudah itu, modal besar. Harga obat garamnya mahal. Utang saya jutaan. Mau dilunasi pakai apa? Jadi sering ribut sama bapak,” jawabnya. (lagi…)