Jangan Malu Makan Tiwul

Posted on Mei 11, 2008

0


PERMASALAHAN pangan selalu identik dengan ketersedian beras. Komoditas ini di mata masyarakat kita, ternyata tidak sekedar berperan untuk menjamin kelangsungan hidup. Namun, telah menjadi status sosial. Orang disebut kelaparan jika tak makan nasi. Keluarga dikatakan miskin, apabila tak mengonsumsi beras.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian (Deptan), Kaman Nainggolan banyak menyoroti permasalahan yang ia nilai berperan besar menghambat program diversifikasi pangan nasional. Berikut petikannya:

Menurut Anda masalah apa yang paling berpengaruh menghambat program ketahanan pangan nasional dalam dua tahun ini?

Jadi sekarang banyak orang menyangka seolah-olah makanan selain beras, seperti tiwul bukan makanan yang layak dikonsumsi. Lalu, tiwul itu makanan orang miskin, makanan yang dikonsumsi secara terpaksa karena persediaan beras habis.

Padahal padangan seperti itu justru memperlemah ketahanan pangan kita dan menhambat diversifikasi pangan untuk memperoleh gizi yang berimbang. Masyarakan akan malu kalau tidak makan nasi atau tidak bisa membeli beras. Malu makan singkong, ubi jalar dan banyak lagi sumber karbohidrat lain yang layak dikonsumsi.

Memang kebutuhan karbohidrat masyarakat kita sebagain besar masih bertumpu pada beras. Indonesia malah termasuk sebagai negara pemakan beras tertinggi di dunia. Tidak mengherankan 60 persen konsumsi karbohidrat kita didominasi padi-padian. Padahal, menurut ahli gizi, harusnya seimbang antara padi-padian dan umbi-umbian. Hal inilah yang harus dikoreksi agar tercipta sumber manusia yang sehat.

Jadi, masalah pangan yang paling krusial segera diselesaikan pemerintah sebenarnya persoalan apa?

Harus diketahui, masalah pangan bukan sekedar ketersediaan, seperti pemiliran pada era 1960-an. Meski cukup tersedia, apabila didistribusikan dengan harga terjangkau bagaimana? Maka pangan tidak merata ke semua level eumah tangga. Maka aspek distribusi menjadi sangat penting.

Misalnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang selalu mengalami surplus beras setiap tahun. Namun, rawan pangan terus terjadi. Ini kenapa? Karena ternyata saya lihat faktor daya beli masyrakat sangat mempengaruhi. Terutama untuk mendapatkan gizi yang seimbang, seperti energi dan protein. Dari data yang ada sebenarnya antara gizi dan protein di Indonesia cukup tersedia. Tetapi, sebagian masyarakat kita daya belinya rendah dan kurang memahami keberagaman sumber pangan.

Lantas, apa yang keliru dari pemahaman masyarakat Indonesia soal pangan dan dengan kebijakan pemerintah selama ini?

Kekeliuran mendasar dalam ketahanan pangan kita adalah persepsi masyarakat bahwa pangan itu identik dengan beras. Sebenarnya dari dulu sudah tumbuh budaya lokal mengonsumsi non beras dalam pola makannya terbentuk keyakinan, tata nilai, dan perilaku masyarakat.

Untuk Papua dan Irian Jaya Barat misalnya, mereka makan umbi-umbian dan sagu. Toh, pemuda Irian jagoan dalam sepak bola. Ini contoh, ubi jalar lebih ampuh dibanding beras.

Ini terjadi karena ternyata ubi jalar lebih unggul vitamin A, karotenoid, vitamin C, serta serta dibandingkan beras. Tidak mengherankan mengapa orang Jepang gandrung mengonsumsi ubi jalar yang merupakan komponen makanan tempura. Malah, mereka itu mengimpor dari kita. Jadi, mestinya makan ubi jalar harus didorong dong!

Jadi, menurut Anda penganekaragaman pangan ini mendesak dan tidak harus dilakukan pemerintah?

Jelasnya iya! Dibeberapa daerah di Jawa sendiri banyak yang makanan khasnya tiwul. Di Kabupaten beberepa Kabupaten di Jawa Timur, seperti Ngajuk, Kediri, Trenggalek, Tulungagung, Pacitan, Lumajang, Malang Selatan, dan Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, malah tanpa tiwul masyrakatnya kurang kenyang. Ada yang ketinggalan, kata mereka. Nah, itu kan menunjukkan makan tiwul itu bukan berarti bahwa masyarakat sana rawan pangan, rakyat miskin, dan kelaparan. Tapi itu adalah perilaku.

Namun, bukankah tanpa teknologi yang mendukung bahan pangan dari umbi-umbian, seperti ubi jalar, singkong, atau talas jika dikonsumsi dalam bentuk segar kandungan protein dan kalorinya rendah? Karena masyarakat kita juga berperilaku cederung mengonsumsi dalam bentuk segar?

Memang karakteristik ini dapat dihilangkan dengan memprosesnya menjadi bahan kering berupa irisan atau tepung dengan kadar air setara dengan beras. Misalnya, kenapa tidak kita kembangkan tiwul instan? Yang daya simpannya lebih? Ini jelas akan menjadi alternatif pangan kita.

Jika penataan pola makan tidak tergantung pada beras saja, memungkinkan tumbuhnya ketahanan pangan keluarga yang akhirnya dapat meningkatkan ketahan pangan nasional.

Secara sederhana begini, apabila dalam satu hari kita makan nasi dua kali, lalu makan umbi-umbian satu kali, dengan asumsi per orang 0,1 kiligram beras sekali makan, maka untuk 220 juta rakyat Indonesia bisa menghemat 8 juta ton per tahun.

Tentu ini suatu jumlah yang luar biasa. Jika ini dilakukan kita bisa surplus beras. Bahkan ekspor. Jika dilakukan sekali seminggu saja, maka kita akan menghemat beras 1,2 juta ton per tahun. (turi)

Posted in: Agribisnis