Baja Itu Tulang Pugung Industri Nasional

Posted on Mei 13, 2008

0


INDUSTRI baja adalah mother industry bagi yang lain. Kemajuannya, pastilah dapat memicu penguatan struktur industri lain di suatu negara. Sebut saja, bagaimana industri-industri di Korea tumbuh begitu pesat. Di sektor otomotif misalnya, kehadiran pabrik baja Posco telah memajukan pabrikan-pabrikan besar seperti KIA, Hyundai, Daewoo, dan Subaru. Belum lagi, di sektor elektronik ada Samsung yang mulai berkibar.

Lantas, bagaimana industri baja di Indonesia? Bukankah negara ini punya PT Krakatau Steel yang dibangun hampir bersamaan dengan Posco Korea pada 1970?

Mantan Direktur Utama PT KS, Daenulhay banyak menceritakan kondisi perusahaannya dan baja secara nasional. Berikut petikannya:

Peran strategis apa yang diambil Krakatau Steel untuk ikut mendorong pertumbuhan industri nasional? Kita tahu di negara-negara maju, industri mereka kuat karena dimulai dari bajanya.

Saya pikir, yang namanya baja itu ada di setiap ruangan. Bahkan ada dis etiap orang. Suka atau tidak suka, kehadiran baja itu selalu ada. Dan, kita tahu bagaimana kemajuan sebuah bangsa dimulai dari industri bajanya.

Bisa dilihat, bagaimana Amerika Serikat maju, Rusia maju, Korea maju, Jepang maju. Itu karena mereka menyadari bahwa industrialisasi itu merupakan hal yang mendukung kemajuan sebuah bangsa. Dengan industrialisasi paling tidak tenaga kerja bisa terserap. Bukan perdagangan. Sebab, kalau dagang, dengan omset miliaran pun bisa dilakukan oleh 4—5 orang saja. Apalagi kalau jadi broker, satu orang pun cukup.

Karena itu, ketika Indonesia berangkat dari pertanian ke industrialisasi, maka pendahulu bangsa ini telah memodernisasi pabrik baja. Produk ini dianggap sebagai tulang punggung dari kehidupan, bahkan menjadi tulang punggung industri nasional. Sebab dari baja industri otomotif, kapal, elektronik bisa maju.

Pendahulu bangsa ini sebenarnya sudah lama menyadari betapa pentingnya industri baja bagi kepentingan nasional dengan mendirikan Krakatau Steel. Tapi mengapa konsep ini seperti belum berjalan?

Memang pendahulu negara ini telah memprakasai pembanguanan industri baja di Indonesia. Namun, bukan berarti tahun itu Indonesia belum kenal baja. Dulu-dulu pun sudah ada. Bahkan di zaman kerajaan ada empu-empu pembuat keris. Cuma sekarang dimodernisasi dan dimotivasi dengan pembangunan Krakatau Steel.

Memang pembangunan KS hampir bersamaan dengan Posco di Korea. Tapi, bisa dilihat kenyataannya, KS tak seberapa pesat pertumbuhannya dibandingkan dengan Korea. Padahal saat itu, kapasitas Posco dan KS hampir sama. Tetapi, Korea kini sudah mencapai 28 juta ton, tapi kami hanya 2,5 juta ton.

Nah, mengapa Korea bisa maju? Karena mereka menyadari betul, bahwa baja adalah tulang punggung dari industri nasional. Saat itu, masyarakat dunia belum mengenal mobil Korea, terutama pada 70-an.

Korea mampu seperti itu karena dimulai dengan industri bajanya. Pemerintah Korea menggerakkan, bukan sekedar hanya swasta saja tapi pemerintah mendorong penuh. Dan, sekarang bisa dilihat, setalah 30 tahun mereka maju sekali.

Apa yang membuat baja di Indonesia tidak berkembang?

Sekarang tak ada pilihan lain pemerintah harus mendukung penuh. Karena, industri baja merupakan industri hulu, dan industri hulu umumnya tidak diminati oleh swasta sebab marginnya rendah. Kemajuan PT KS ini menjadi tanggung jawab penuh negara.

Makanya, sekarang pemerintah tampaknya sedang menuju ke arah sana. Wapres medorong, Menteri Negara juga bahwa untuk kompetitif itu harus memiliki bahan baku. Dan, sekarang bahan baku itu ada di Indonesia sehingga kami sedang berkonsentrasi untuk memiliki tambang biji besi.

Karena dengan cara itu cost competitif bisa tercapai. Saya katakan pada 2008 KS ini dari sisi ongkos bisa kompetitif. Kenapa? Sebab sampai sekarang kalau aple to aple dalam pembuatan iron steel, kami hampir sama dengan Tata Steel. Apalagi kalau nanti bisa memanfaatkan biji besi domestik.

Saat ini industri baja global tengah menikmati keuntungan yang luar biasa. Namun, industri baja nasional kita malah kolaps. Apa penyebabnya?

Saya katakan baja adalah tulang punggung industri nasional. Posisinya harus selalu dimonitor oleh pemerintah. Apakah pasar itu telah dipenuhi dengan produk-produk impor atau tidak. Kalau itu yang terjadi, maka pemerintah harus membatasi agar impor itu jangan banjir.

Lalu, apakah produk impor diindikasikan dengan dumping, nonstandar atau tidak. Ini harus dimonitor. Karena memang yang membuat industri baja di Indonesia terpuruk karena tidak bisa bersaing. Baik itu persaingan yang fair atau tidak fair. Nah, kami melihat hal yang tadi sekarang tidak fair. Bagaimana kita bisa membuat harga menjadi baik, kita dapat untung kalau disuruh melawan produk nonstandar. (Turi)

Posted in: Manufaktur