Produsen Pelumas Perlu Bebernah

Posted on Juni 1, 2008

0


ENAM tahun sudah, PT Pertamina (Persero) tak lagi memonopoli bisnis pelumas di Tanah Air. Selama kurun waktu itu pula, pasar pelumas selalu saja bergejolak. Beragam persoalan pun lantas mencuat ke permukaan. Mulai dari yang semula hanya melibatkan antarprodusen hingga sampai menyebar kepada ketakutan para konsumen.

Persolan pelumas yang muncul tersebut, antara lain tingkat pemalsuan produk yang diperkirakan menyebabkan kerugian negara hingga Rp7 triliun per tahun sampai soal tarik ulur standardisasi yang hingga kini tak jua selesai. Di samping itu, produsen pelumas domestik juga masih terus saling sikut untuk bisa meraih pasar dengan meluncurkan produk-produk terbaru.

Tetapi, kini produsen pelumas di dalam negeri seolah mendapatkan tantangan baru, seiiring dengan berkembangnya teknologi global. Masyarakat dunia menuntut tingkat polusi dapat ditekan. Terutama dengan menurunkan gas buang emisi bagi kendaraan bermotor.

Selain itu, kini pabrikan otomotif dunia juga sudah berbenah mengubah desain produknya agar dapat sesuai menggunakan bahan bakar terbarukan. Kondisi ini, tentu tak lepas dari semakin menipisnya produksi minyak mentah dunia sehingga sejumlah negara mengembangkan bahan bakar nabati atau biofuel.

Situasi tersebut, mau tak mau memang harus menjadi bahan pemikiran produsen pelumas di Indonesia agar terus bisa bersaing di pasar. Terutama, menyiapkan produk pelumas yang selaras dengan desain mesin kendaraan bermotor terkini dan bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan.

Sebagai pemilik pangsa pasar pelumas domestik terbesar, pastinya PT Pertamina merupakan perusahaan yang paling berperan dan berkempetingan terhadap perubahan tersebut. Khususnya, untuk kembali mampu merebut pasar yang sebelumnya pernah rontok.

Lantas, bagaimana langkah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perminyakan itu menyiapkan perubahan sesuai dengan keinginan masyarakat terhadap produk pelumas kendaraan bermotornya? Seperti apa strategi perseroan untuk mempertahankan pasar? Iqbal Hasan, Vice President Pertamina Lubricant kepada saya banyak menjawab hal tersebut. Berikut petikannya:

Bagaimana Anda melihat situasi pasar pelumas sekarang setelah pada Februari 2001 pemerintah menderegulasi bisnis ini?

Tentunya terjadi persaingan yang sangat luar biasa, khususnya untuk jenis pelumas di segmen otomotif. Banyak merek baru muncul. Tercatat, di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terdapat 200 perusahaan yang terdaftar. Nah, pasar pelumas yang pada 2007 ini mungkin mencapai 650 ribu kilo liter, diperebutkan oleh 200 produsen tadi. Jadi, bisa dilihat betapa ketatnya persaingan.
Bisa disebutkan siapa saja pemain utamanya?

Banyak, baik itu pemain global atau lokal. Pemain global itu ada yang berasal dari Amerika Serikat, yakni Conoco dengan produk pelumas Mobol1 dan Caltex. Lalu ada juga dari Eropa, seperti BP, Castrol, Agip, Valvoline, Penzoil, Total, dan Shell. Dari Jepang juga ada, antara lain Idemitsu, Enoas. Baru pemain lokal Indonesia sendiri seperti Pertamina, Nusaraya, dan PT Wiraswasta Gemilang Indonesia.

Nah, dari total pasar 650 ribu kiloliter per tahun yang saya sebutkan tadi, Pertamina memang masih memimpin, yaitu 54 persen. Tapi di tingkat retail hanya 49 persen. Kalau di segmen industrinya masih besar mencapai 61 persen pada 2007. Besarnya pasar pelumas ini tentu didukung oleh pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, baik roda dua dan empat.

Namun, bukankah pabrikan otomotif sendiri mendesain mesinnya sesuai dengan pelumas di negara asal? Misalnya, mobil asal Jepang pasti lebih cocok memakai oli dari Jepang pula. Bagaimana Pertamina menyiasati hal ini?

Memang betul. Tapi kami bisa mempelajari dan menyesuaikan itu semua. Saya contohkan untuk jenis mobil penumpang asal Jepang yang didatangkan dalam bentuk original equipment manufacturer (OEM), kecuali Toyota. Mobil-mobil mereka itu termasuk model terbaru. Karenanya, dibutuhkan viskositas pelumas yang rendah (SAE= 10W-30) dan performance yang baik (API, SJ, dan SL).

Ini sesuai dengan karakter mobil-mobil baru saat ini yang lebih hemat bahan bakar dan memiliki gas buang emisi yang rendah sehingga ikut mendorong perbaikan lingkungan. Makanya, Pertamina harus bisa membuat pelumas dengan viskositas rendah. Sebab, selama ini viskositas merupakan penentu kinerja suatu pelumas.

Lantas untuk pelumas bagi sepeda bermotor, juga sama. Umumnya model-model terbaru sekarang butuh oli dengan viskositas yang rendah. Nah, ada lagi tren motor otomatis. Jenis sepeda motor ini membutuhkan oli agak berbeda. Biasanya yang dipakai itu seperti SAE 10W-30 dengan performance JASO, MB, API, SJ/SL.

Untuk supply dan demand pelumas di Indonesia sendiri saat ini seperti apa?

Kebutuhan pelumas saya perkirakan masih berkisar pada 650 ribu kilo liter per tahun. Angka ini dipasok oleh 10 pabrik dengan kapasitas total 2 juta kilo liter per tahun. Tiga di antaranya merupakan pabrik besar.

Untuk Pertamina, kami memproduksi base oil 450 ribu kilo liter per tahun. Selain Pertamina ada juga Nusaraya, PT Wiraswasta Gemilang, Castrol Indonesia, Agip Lubrindo Pratama, Pacific Lubritama, Jumbo& Federal yang juga masuk kategori Lube Oil Blending Plant.

Pada 2008 seperti apa?

Saya prediksi potensi pasar pelumas nasional hanya dapat tumbuh 2 persen hingga 3 persen dari total pasar pelumas tahun ini. Syaratnya, kondisi perekonomian tetap baik dan tidak terjadi bencana alam. Bagi Pertamina, hingga akhir tahun ini masih memproyeksikan total volume penjualan produk pelumas mencapai 360 ribu kilo liter.

Ada langkah ekstrim yang akan dilakukan Pertamina untuk menaikkan produksi sehingga menguasai pasar?

Pada pertengahan 2008 nanti, kami telah menggandeng SK Energy dari Korea untuk memproduksi 350 ribu kilo liter per tahun lube base oil (LBO). Pada tahap awal proyek ini akan menghasilkan produk LBO group III dengan volume 7.250 kilo liter per hari dan akan ditingkatkan maksimum menjadi 10.000 kilo liter per hari.

Nah, baru pada Mei 2008, proyek ini direncanakan mulai beroperasi dan terus ditingkatkan kapasitas produknya. Produksi pelumas hasil kerjasama ini akan lebih difokuskan ke pasar domestik maupun ekspor terutama ke kawasan Asia Timur maupun kawasan Eropa.

Proyek ini, pastinya merupakan peluang bagus bagi Pertamina. Mengingat pendapatan yang dihasilkan bisa mencapai US$300 juta dalam satu tahun. Margin keuntungannya mencapai sekitar 10 persen sehingga banyak bank yang bersedia mendanai proyek ini. Selain itu, dengan memproduksi pelumas sintetik, Pertamina bisa menjangkau pasar lebih luas.

Lantas bagaimana dengan dampak kenaikan harga minyak mentah dunia dalam tiga bulan terakhir yang menembus hingga US$95 per barel? Apakah akan berpengaruh terhadap harga jual pelumas Pertamina?

Pastinya iya. Kami telah berencana menaikkan harga sejumlah merek pelumas mobil dan motor sekitar 5 persen pada bulan ini dari harga sebelumnya. Mereka pelumas yang akan mengalami kenaikan harga, antara lain Fastron, Prima XP, Enduro, Mesran, dan Meditran.

Saat ini, masing-masing merek di pasaran masih dijual pada kisaran harga Rp40.000 untuk Fastron, Rp23.000 (Prima XP), Rp21.000 (Enduro), Rp16.000 (Mesran), dan Rp17.500 (Meditran).

Kenaikan harga pelumas ini ditempuh karena lonjakan harga minyak mentah dunia secara langsung berpengaruh pada harga bahan baku pelumas dan material lain seperti plastik pembungkus pelumas (industri petrokimia).

Menurut Anda, apa yang harus disiapkan produsen pelumas domestik untuk menyesuaikan tren pabrikan otomotif global dengan merek baru yang lebih ramah lingkungan dan hemat bahan bakar?

Ini yang patut dipikirkan. Seperti diketahui, pabrikan otomotif Jepang, seperti Toyota, Yamaha, Honda menyumbangkan pasar besar bagi penjualan produk pelumas di Indonesia. Tetapi, kini pabrikan itu mengeluarkan produk-produk baru.

Jadi ke depan, memang prinsipal otomotif lebih menyukai jenis pelumas yang mendukung kinerja mesin agar tetap mampu hemat bahan bakar, memiliki tingkat emisi rendah, dan rentang penggunaannya lebih panjang.

Selain itu, ada juga isu soal lingkungan bagi industri. Tentunya, produsen pelumas ikut berperan menekan tingkat pencemaran udara dengan memberi produk rendah emisi ke industri. Makanya, benar-benar dibutuhkan jenis pelumas sintetik yang dia lebih ramah lingkungan. Di sinilah peluang Pertamina itu, setelah berhasil memproduksi LOB Group III.

Bagaimana dengan bahan bakar nabati (biofuel) yang mulai digunakan oleh mobil dan motor? Bukankah ini juga membutuhkan kesesuaian jenis pelumas yang digunakan?

Ini masih dipelajari oleh kalangan produsen pelumas. Memang benar, untuk mendukung kinerja mesin kendaraan bahan bakar memiliki peran peting dan pelumasnya harus kompatibel. Tentu aspek-aspek negatif seperti korosin dari pemakaian biofuel harus dipelajari terlebih dahulu sehingga bisa diluncurkan jenis pelumas yang sesuai untuk menghilangkan dampak negatif itu.

Posted in: Manufaktur