Virginia, Hidup Mati Petani Lombok

Posted on Juni 1, 2008

12



BAGI petani tembakau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), daun Virginia ibarat kuning emas di tengah terik matahari. Begitu bersinar dan menyilaukan. Setiap tatap mata memandang, di situlah dia akan dibuat tergiur memilikinya.

Lalu, mereka pun saling berebut untuk bisa menggembol tumpukan daun emas Virginia itu. Meskipun pertaruhan yang dibuat teramat besar untuk sekelas petani seperti mereka.

Salah-salah, jika sampai meleset dan akhirnya kalah, maka para petani di Lombok itu pun harus bersiap-siap bila suatu saat dapur di rumahnya tak lagi bisa mengepul. Hidup pun bagai terasa buron. Setiap hari dikejar-kejar si penagih utang, meski mereka telah bersembunyi sampai ke lubang semut.

Namun, demi sebuah harapan bahwa daun-daun emas Virginia itu bakal mengubah mereka dalam keterpurukan nasib, para petani di sana tak lagi memedulikan resiko usaha yang mesti ditanggung. Walaupun pada mulanya terpaksa harus jatuh bangun. Tapi, buktinya meraka tak pernah kapok menanam tembakau Virginia.

Sebutan umum yang muncul di tengah masyarakat Lombok tentang Virginia sejak 1995 itu, tentu bukanlah tanpa sebab-musabab. Karena, selama ini, setiap lembaran kuning daun kering Virginia selalu saja mampu melambungkan impian si empunya.

Sampai-sampai, ada yang beseloroh, “Kalau tanpa tembakau, kami di Lombok akan terus miskin. Saya tak bisa naik haji atau malah kawin lagi.”

Memang tak bisa dipungkuri, dibandingkan tanaman pangan, nilai ekonomis tembakau lebih tinggi. Karenanya, petani di Lombok dalam 12 tahun terakhir ini terus bercocok tanam tembakau. Mengingat keuntungan yang bakal diraih lebih menjanjikan.

Selain itu, selama ini daun-daun Virginia tersebut telah terbukti dapat mengantarkan petani Lombok keluar dari berbagai jepitan ekonomi. Sekaligus, alat untuk memeroleh status terhomat di masyarakat sekitar dengan panggilan baru: Pak Haji. Sebabnya, saat musim kemarau tiba, mereka selalu berbondong-bondong menanam tembakau.

Di Lombok sendiri, kini tak satu pun dari petikan daun Virginia itu terbuang berserak. Semuanya teramat bernilai. Dan, menjadi mesin pendulang rupiah selama kurun waktu lima bulan bagi sekitar 140 ribu pekerja yang terlibat dalam usaha tani tersebut. Baik itu anak-anak, dewasa, hingga orang tua berusia lanjut. Mulai dari mereka yang sekedar berstatus sebagai buruh tani sampai si pemilik kebun tembakau itu sendiri.

Sampai musim panen tiba pada periode September hingga November, total pendapatan per buruh itu diperkirakan mencapai Rp25 juta. Sementara, setiap datangnya musim panen jumlah uang berputar (cash flow) diprediksi hingga triliunan rupiah. Suatu nilai yang tentunya sangat berperan untuk ikut menggerakkan roda perekonomian di Lombok.

”Usaha tembakau berefek ganda. Anak-anak, dewasa hingga orang tua ikut kebagian. Dari ongkos gelantang saja mereka dapat upah Rp25.000 per hari. Belum lagi yang lain-lain,” kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi NTB, Shahabuddin Sadar saat ditemui Jurnal Nasional di ruang kerjanya di Lombok, Jumat (14/9).

Berangkat dari situlah, cerita manis tentang para petani tembakau Lombok yang berhasil menanam Virginia, sudah tak terhitung lagi. Kendati, rata-rata kepemilikan lahan petani di daerah itu hanya berkisar 0,3 hektare per kepala keluarga.

Namun, di balik kisah sukses para petani tembakau Lombok, tidak bisa ditutup-tutupi pula ada sebuah roman kegagalan. Terutama, bagi mereka yang bermodal nekat dan main coba-coba.

Sebut saja, kisah yang dialami Amaq Suhaidi dan Jalal. Dua orang petani yang berstatus mitra binaan sebuah perusahaan tembakau di Desa Wajegeseng, Loteng, Lombok Tengah.

Dikisahkan, Amaq Suhadi pernah bermasalah dengan perusahaan yang membinanya. Saat itu, dia mendapatkan jatah memasok tembakau ke gudang milik perusahaan mitra sebesar tiga ton. Namun, dia baru memenuhi dua ton. Satu ton sisanya, dijual ke pedagang lain.

Tujuannya agar mendapatkan untung lebih besar. Karena, harga jual yang ditawarkan oleh pedagang itu lebih tinggi. Lagi pula, mereka tidak mau mengkelaskan secara ketat jenis daun tembakau yang akan dibeli.

Kondisi ini tentunya sangat berbeda dengan ketentuan di gudang, di mana ada persyaratan teramat ketat terhadap kualitas tertentu yang harus dipenuhi petani. Dari pemenuhan grade inilah, petani akan mendapatkan harga per kilogramnya. Apakah akan lebih mahal atau murah.

”Nah, kalau sama pedagang itu dipukul rata. Jadi saya bisa mendapatkan uang lebih besar ketimbang menjual ke pabrik,” katanya.

Maksud Amaq Suhadi sebenarnya baik. Dia ingin mendapatkan untung berjibun dari panenan tembakaunya. Dan, tentu saja, ia bisa melunasi utang sebesar Rp10 juta yang dipinjam dari perusahaan mitra pada awal musim tanam lalu.

Namun, perkiraannya itu salah. Perusahaan tempatnya bermitra justru terus menagih satu ton sisanya. ”Perusahaan tak mau pengembalian utang saya. Mereka tetap bersikeras pokoknya utang dipotong dari hasil panenan tembakau.”

Cerita lain, dialami Jalal. Dia malah harus main kucing-kucingan dengan perusahaan tempatnya bermitra lantaran takut di tagih hutang. Suatu hari, langkahnya terhenti di depan rumahnya sendiri. Sebab, begitu di depan pintu masuk dia melihat sandal jepit baru.

Jalal meyakini pemilik sandal adalah penagih hutang. Dia lantas memutuskan kembali lagi ke sawah. Namun karena tidak pulang-pulang menjelang shalat Isa, anaknya justru mencari ke sawah. Dari cerita anaknya, Jalal mengetahui, sandal jepit baru itu dibeli oleh istrinya, bukan milik tukang tagih.

Dua kisah yang dialami Amaq Suhadi dan Jalal di atas, menggambarkan bahwa menanam tembakau tidaklah semudah membalik telapak tangan.Karena itu, perusahaan mitra tentu tak mau begitu saja diposisikan seperti perbankan. Tempat pinjam duit, lalu setiap bulan si peminjam itu mencicil besaran pokok plus dengan ketentuan bunga.

Apalagi, mengajarkan teknik budidaya tembakau yang benar ke petani Lombok sangatlah rumit. Tidak mudah. Terutama, proses transfer teknologi untuk tata cara bercocok tanam, seperti tahap penyiapan lahan, penyemaian benih, penanaman bibit, cara perawatan, hingga pascapanen.

Semua kegiatan budidaya itu harus sesuai dengan standart operational procedurs (SOP) yang ditetapkan, jika ingin menghasilkan produksi per hektare tembakau lebih tinggi dan memiliki kualitas daun Virginia terbaik.

Begitu pula dengan cara membuat perencanaan biaya ketika usaha tani akan dimulai. Petani tembakau dituntut cermat agar masih bisa mendapat untung selepas panen dilakukan. Biasanya, komponen biaya usaha tani tembakau meliputi pengeluaran untuk sarana produksi, tenaga kerja, bunga modal, dan sewa tanah.

Field Station Manager PT Sadhana Arifnusa, Kuswanto Setyabudi menuturkan, dibutuhkan proses yang tak sebentar untuk menjadikan petani di Lombok mahir menanam tembakau. Apalagi, petani memiliki kebiasaan sulit untuk menerima teknologi baru dalam bercocok tanam.

Petani aseli Lombok dulu memang terkesan pemalas untuk menggarap sawahnya. ”Waktu awal-awal kami menjalin kemitraan di sini pada 1995, kami di sawah, mereka (petani) malah nonton.”

Dia menuturkan, waktu pertama kali salah satu perusahaan milik Sunarjo Sampoerna itu membuka usaha di sektor hulu untuk memproduksi rokok dengan menanam tembakau Virginia berpola kemitraan, banyak penilaian warga sekitar yang sinis ketika melihat para teknisi bekerja.

Namun, berkat ketelatenan dan kegigihan tim teknis untuk memberikan bukti kepada petani binaan Sadhana di Lombok, mereka akhirnya menjadi tertarik turun ke sawah.

Bahkan, kini 1.800 petani mitra Sadhana telah mahir dalam bercocok tanam tembakau. Mereka mampu memproduksi hingga 3 ton per hektare, atau lebih tinggi dari produksi yang dimiliki pabrik. ”Pada dasarnya petani itu akan ikut jika sudah melihat hasilnya. Maka dari itu, saya selalu berani bertaruh dengan mereka. Jika gagal, maka saya harus siap ganti rugi,” katanya.

Sekarang, dari keberhasilan transfer teknologi itu, petani di Lombok telah berhasil mengantarkan kualitas daun tembakau Virginia Indonesia menjadi yang terbaik keempat di dunia, setelah Amerika Serikat (AS), Brasil, dan Zimbabwe. Bahkan, untuk level Asia, Virginia asal Lombok berkualitas terbaik nomor satu, mengalahkan China dan Thailand.

Kini, lebih dari 20 ribu hektare dari 58 ribu potensi yang ada di provinsi NTB telah dimanfaatkan sebagai ladang-ladang tembakau. Luasan ini meningkat cukup signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya tercatat 17 ribu hektare.

Lahan-lahan tersebut dulunya hanya dibiarkan menganggur sewaktu kemarau tiba. Atau, kalau pun ditanami, cuma dengan jenis palawija alakadarnya, seperti ubi-ubian, kacang-kacangan, dan sayur-mayur yang tak secara nyata mendatangkan nilai tambah bagi pendapatan keluarga.

Dari kondisi di atas, tentu bisa digambarkan, betapa tembakau telah menjadi primadona di mata warga Lombok. Bahkan, sekarang petani di sana lebih gemar menanam tembakau ketimbang tanaman pangan, seperti padi, jagung, dan kedelai.

Daun Virginia itu, kini ibarat penentu nafas hidup atau matinya petani di Lombok. ”Biar saja beras impor. Toh, saya tetap bisa beli meski harganya tinggi. Karena punya uang,” ujar Putranom, petani tembakau di Kecamatan Sikur, Lombok Timur. [!]

Posted in: Agribisnis