Agar Harga Pangan Tak Terus Mengamuk

Posted on Juni 10, 2008

0


WAJAH Warsono kusut. Ia terlihat kesal. Dibantingnya topi kumal yang sedari tadi menutupi kepalanya. ”Ini bagaimana? Kok harga gabah gak naik-naik sih? Katanya, di TV sudah naik!” ujar Warsono sembari merapatkan tempat duduknya ke Rasim. ”Lha mbuh kang! Itu kan baru kata TV,” jawab Rasim.

Keduanya terdiam. Warsono seperti enggan melanjutkan obrolan bersama Rasim. Dia terlihat asyik mengisap dalam-dalam puntung rokok yang digenggamnya. ”Sampai kapan ya, begini? Masa, saya kemarin jual gabah hanya Rp2.200 per kilogram. Padahal, katanya paling murah harus dibeli Rp1.500-an per kilo,” celetuknya ringan.

Siang itu, Rabu (23/4) di tepi galengan sawah Kelurahan Curug, Sawangan, Kota Depok, Warsono dan Rasim saling berkeluh kesah. Berbagi cerita tentang nasib mereka sebagai petani padi yang sedari dulu belum membaik.

Di Curug, Warsono tidaklah punya lahan luas. Kurang dari seperempat hektare. Lahan itu ia tanami padi dan sesekali diselingi dengan sayur mayur. Dari lahan itu, ia hanya bisa memanen padi tak lebih dari 1,5 ton gabah kering giling (GKG) per musim.

Jelas, dengan hasil tersebut tidaklah membuat kondisinya membaik. ”Hanya bisa bertahan hidup saja,” tutur pria asal Gunung Kidul yang pindah ke Curug, Depok 35 tahun silam.

Warsono menuturkan, sudah tiga tahun ini saat musim panen padi tiba, tak lantas membuatnya bahagia. Sebab, harga kebutuhan pangan lain, seperti minyak goreng, daging, gula, dan tempe ikut naik. Belum lagi, ia juga masih terbebani biaya sekolah tiga anaknya.

”Meski harga gabah naik, produksi naik, tapi kalau harga kebutuhan lain ikut naik, ya susah. Krisis terus bawaannya. Beda sama dulu,” ucapnya.

Apa yang diungkapkan Sarwono diamini oleh Rasim. Dia menambahkan, ”Bulog gak tau kemana. Kalau dulu ada perannya bagi kami. Banyak membantu. Saya rasakan. Dulu apa ada istilah raskin (beras untuk orang miskin). Sekarang saja jadi populer.”

Memang, apa yang dialami Sarwono dan Rasim, tak lepas dari ’menyempitnya’ peran Perum Bulog, sejak 2003 silam. Kini, tinggalah setiap kali krisis pangan terjadi, saat itu pula peran Bulog kembali menjadi perdebatan.

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa sewaktu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu memegang hak monopoli pangan pokok, harga dan
ketersediaan justru stabil? Kualitasnya juga baik, harga terjangkau, dan tak ada kabar antri beras serta tiada istilah beras raskin?

Sebagai indikator, komoditas beras misalnya, selama hampir 300 bulan hanya 10 kali harga gabah jatuh di bawah harga dasar. Kenaikan harga yang terlampau tinggi juga jarang terjadi pada periode tersebut.

Muslimin Nasution, mantan Menteri Kehutanan menilai, pada masa lalu, sistem pangan nasional sebenarnya telah berada di jalur yang tepat dengan menempatkan Bulog sebagai penjaga stabilitas pangan. Bulog, lanjut dia, diberi tanggung jawab penuh untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan berbagai komoditas mulai dari beras, gula, terigu, kedelai, jagung, minyak goreng, palawija hingga cabai.

”Ini sesuai amanat UUD 45. Karena pangan termasuk cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Jadi harus dikuasai negara. Jika dimiliki orang per orang, maka rakyat menderita,” katanya.

Menurut Muslimin, dengan peran seperti itu, selama tiga dasawarsa, Bulog berhasil menjaga stabilitas harga pangan dan menghindarkan rakyat banyak dari penindasan spekulan pangan. Namun, kini kondisinya berbalik. Rakyat, ujar dia, terpaksa membiasakan diri hidup dalam kisruh pangan. Mulai dari kisruh beras, minyak goreng, terigu, kedelai. ”Tak menutup kemungkinan juga terjadi pada komoditas lain sepert susu.”

Muslimin menegaskan, sudah saatnya peran Bulog dikembalikan seperti semula. Sebab, telah terbukti mampu menjaga stabilitas harga pangan selama puluhan tahun. Dan, tak kalah pentingnya, Bulog juga dapat meneruskan program diversifikasi pangan yang saat ini terbengkalai.

Dia mengatakan, Bulog memiliki gudang-gudang yang bisa dimanfaatkan untuk program diversivikasi pangan. ”Gudang itu kan bisa dijadikan tempat processing atau reprocessing stok pangan milik Bulog. Misal, Bulog melengkapi dengan peralatan penepungan umbi-umbian. Lalu ada pihak swasta yang joint. Ini kan langkah diversifikasi pangan,” tuturnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Suswono menyatakan, pada dasarnya legislatif setuju jika Bulog tak lagi hanya menangani stabilisasi harga beras saja. Melainkan, komoditas pangan lain, seperti minyak goreng, gula, terigu, dan kedelai.

“Ini penting untuk mengantisipasi struktur dan format ekonomi pangan yang mulai berubah,” katanya.

Dia mengakui, saat harga pangan pokok dunia meroket seperti saat ini, diperlukan suatu terobosan untuk mengatasinya. Salah satunya, dengan membentuk lembaga yang bisa menyetabilkan harga. “Kenapa tidak diperankan Bulog saja? Soal anggaran bisa ditambah.”

Menanggapi usulan ini, Direktur Utama Perum Bulog, Mustafa Abubakar menyatakan siap, jika pemerintah menyetujui. Tapi, kebijakan pemberian tugas sebagai stabilisator itu harus berkelanjutan. Jadi, bukan sekedar saat terjadi gejolak harga saja seperti sekarang.

”Keberhasilan pengendalian harga sangat tergantung dari penugasan penyediaan pasokan, pengelolaan stok dan jaringan distribusi yang tidak akan efektif bila kebijakan itu hanya bersifat insidentil,” ujarnya.

Mustafa menyatakan, ada tiga hal yang perlu dikaji dalam rangka perbaikan lembaga Perum Bulog. Ketiganya, yaitu penguatan kelembagaan, meninjau kembali Peraturan Pemerintah tentang Perum Bulog, dan mengubah strategi jangka menengah dan panjang. ”Setelah ini diselesaikan, baru kami bisa bergerak.”

Posted in: Agribisnis