Babak Baru Persaingan Bisnis Pelumas

Posted on Juni 10, 2008

0


PERSAINGAN di pasar pelumas makin seru saja. Meskipun, potensi pasarnya selama ini tak segemerlap laiknya bisnis jenis bahan bakar cair lainnya, tetapi kompetisi antarprodusen bahan pelicin mesin bermotor itu semakin hari kian menjadi.

Berbagai merek baru pun kini meluncur begitu derasnya bak air bah. Dari yang semula hanya ada 10 merek, kini pasar dibanjiri hampir lebih 300 brand. Ada yang buatan lokal, tapi tak sedikit pula yang diimpor. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat berbarengan dengan hadirnya pemain baru.

Kehadiran merek-merek itu, pastinya diikuti dengan seabrek promosi yang selalu saja mengagungkan brand pelumas baru itu, apabila konsumen mau menggunakannya.

Bahkan, tak ketinggalan ada salah satu produsen yang sengaja menggugah semangat kebangsaan dalam berkompetisi dengan pabrikan asing supaya produk pelumas miliknya dapat terjual lancar. Targetnya, perusahaan bisa terus memimpin pasar di segmen usaha tersebut. Produsen itu pun berteriak lantang,”Kita untung, bangsa untung.”

Memang, tren membanjirnya merek-merek pelumas baru, tak pelak, menjadikan persaingan bisnis di sektor ini semakin menarik. Itu, paling tidak, membuat ketar-ketir sejumlah pemain lama. Tak terkecuali PT Pertamina (Persero). Seperti diketahui, Badan Usaha Milik Negara ini pernah memonopoli sektor migas, termasuk oli. Karena itu, pangsa pasarnya sempat mencapai 90 persen.

Namun, setelah pemerintah membebaskan keran impor oli lewat Keputusan Presiden No. 21/2001, hak monopoli tersebut pun secara otomatis pupus. Sejak saat itu pula, karena berbagai merek asing bebas masuk, pangsa pasar produk oli Pertamina ikut melorot hingga 50 persen. Tetapi, tak berarti perusahaan ini dibuat terpuruk habis-habisan. Oli Pertamina masih tetap menjadi penguasa pasar terbesar di negeri ini.

Data Pertamina mengungkapkan, dari total pasar pelumas yang mencapai 625.000—650.000 kilo liter pada 2007 ini, 54 persen pangsa pasarnya masih dikuasai BUMN tersebut. Setelah itu, Top1 menyusul 11 persen, Shell 6 persen,dan Penzoil 6 persen.

Pastinya, banyak hal yang dilakukan sejumlah merek asing itu sehingga mereka berhasil mencuri sebagian pangsa Pertamina. Intinya tak lari dari soal mutu dan harga. Kualitas, misalnya. Kecenderungannya, pasar lebih menyukai oli yang memiliki fungsi pelumas yang baik alias tidak berdampak merusak mesin serta masa pemakaiannya tergolong awet. Jika memenuhi standar ini, kendati harganya agak lebih mahal, oli itu niscaya akan tetap disambar pasar.

General Manager Pelumas PT Pertamina, Iqbal Hasan mengatakan, pihaknya tahun ini berambisi mampu menguasai 58 persen pasar pelumas domestik dengan volume sekitar 380.000 kiloliter (kl) dari total pasar oli nasional yang mencapai 650.000 kl.

Menurut dia, perusahaannya telah meluncurkan produk oli terbaru, Prima XP 10 W-40 sintetis yang diharapkan mampu mendongkrak pasar pelumas Pertamina. Dia mengklaim Prima XP 10 W-40 sebagai pelumas sintetik yang cocok digunakan untuk mobil generasi baru.

Produk oli lain buatan Pertamina adalah Enduro 4T Racing, yang diposisikan sebagai pelumas sintetis khusus untuk sepeda motor 4 tak (langkah) dan telah memenuhi standar mutu Japanese Automobile Standard Organization sertifikasi Jaso-MA.

Iqbal menegaskan, cara yang paling rasional ditempuh PT Pertamina untuk mempertahankan pangsa pasar pelumas adalah dengan melakukan inovasi baru di tengah persaingan pelumas yang semakin tajam.

“Tahun lalu Pertamina memiliki pasar sekitar 350.000 kl hingga 360.000 kl dan pada tahun ini ditargetkan sekitar 380.000 kl. Kami yakin target itu bisa kami tembus, sebab jaringan distribusi kami paling luas ketimbang para kompetitor,” ujarnya kepada Jurnal Nasional pada Indonesia Fuel and Lubes Conference and Exhibition 2007 (IFL) di Jakarta (19-20/11).
.
Dia memperkirakan perseroan akan meraih keuntungan bersih sekitar Rp4 trilun hingga Rp5 triliun pada 2007 untuk divisi pelumas. “Pada tahun lalu penjualan pelumas kami telah melampaui target yang ditetapkan yakni 358.000 kl menjadi 379.000,” lanjut dia.

Tak mau ketinggalan dengan Pertamina, PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI) mematok peningkatan pangsa hingga 15 persen di pasar pelumas nasional tahun ini dengan berupaya lebih fokus ke segmen kendaraan roda empat.

Dwi Aryani H. Rasyid, General Manager Corporate Communication PT WGI mengatakan memasuki awal tahun pihaknya berupaya melakukan ekspansi dengan mendorong pertumbuhan penjualan pelumas merek Evalube untuk mobil.

Selama ini perusahaannya lebih berkonsentrasi pada segmen pelumas untuk sepeda motor 2 tak. “Kami harapkan tahun ini pangsa pasar kami naik dari 10 persen menjadi 15 persen,” katanya.

Menurut dia, penjualan pelumas WGI, sekitar 60 persen di antaranya terserap di Pulau Jawa, sedangkan sisanya di pulau lain terutama Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

Dewi mengakui distribusi dan penjualan perusahaan pelumas Evalube di pulau Sumatra sempat terganggu pada tahun lalu sebagai dampak dari gempa bumi dan tsunami di Nanggoe Aceh Darussalam.

“Tapi untungnya penurunan penjualan di Sumatera dapat di-cover oleh peningkatan penjualan di wilayah lain, terutama Pulau Jawa yang selama ini berkontribusi sekitar 60 persen terhadap total penjualan WGI.”

Sementara itu, PT ALP Petro Industry juga menargetkan penjualan produk Agip, oli asal Italia, pada tahun ini mencapai 5 persen dari total penjualan produk pelumas di Indonesia, atau naik 1,7 persen dibandingkan tahun lalu.

Pada tahun lalu oli ini hanya menguasai pangsa pasar 3,3 persen, dan untuk tahun ini diperkirakan akan meningkat secara menyeluruh seiring dengan peningkatan jumlah penjualan dan populasi kendaraan bermotor.

Kepala Divisi Marketing PT Alp Petro Industry Handoko Sutiono optimistis mampu meraih pangsa pasar oli Indonesia sebesar 5 persen meskipun di Tanah Air terdapat sekitar 300 merek oli yang beredar di pasar.

“Kami akan bersaing secara sehat dengan merek oli lainnya, karena dengan persaingan yang sehat akan menjadikan kinerja meningkat, apalagi seluruh distributor di sejumlah daerah juga mendukung,” jelasnya, kemarin.

Dia menyebutkan untuk memenuhi permintaan pasar di Tanah Air, perusahaan akan memasok sekitar 45.000 ton per per tahun, untuk mendukung langkah penetrasi ke sejumlah daerah.

Dia menyebutkan potensi pasar di daerah terutama Sumatra Selatan cukup prospektif sebab pertumbuhan perekonomian di wilayah ini cukup pesat.

“Kami optimistis target penguasaan pangsa pasar 5 persen dapat di raih pada tahun ini,” jelasnya.

Sales Marketing PT ALP Petro, Indistri Albert Kurniady mengatakan, pada semester pertama 2007 lalu pangsa pasar oli Agip tergolong cukup baik, bukan saja di Sumsel, namun juga sejumlah daerah terutama Jambi dan Bangka-Belitung. Dia menyebutkan oli Agip ini dipasarkan dalam beragam tipe untuk memenuhi permintaan pasar kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat.

“Penjualan pelumas ke segmen kendaraan sepeda motor dan mobil masing-masing memiliki porsi yang sama yakni 50:50 di hampir seluruh daerah pemasaran.”

Namun, di tengah gempita persaingan di tingkat ritel itu, produsen pelumas di dalam negeri kini menghadapi era persaingan baru. Selain berupaya meningkatkan pangsa pasar di tengah ketatnya kompetisi, mereka juga dituntut mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi global.

Harus diakui, pabrikan-pabrikan otomotif dunia kini sudah mulai berbenah. Hal itu terlihat dari tren munculnya jenis mobil dan sepeda motor generasi terbaru yang lebih ramah lingkungan, rendah emisi, dan tentunya hemat bahan bakar.

Tuntutan ini dipicu oleh komitmen peduli akan lingkungan, kualitas udara, dan penurunan emisi gas buang yang kini menjadi fokus perhatian semua pihak, baik para produsen dan pengguna pelumas serta bahan bakar minyak (BBM).

Selain itu, melambungnya harga minyak mentah dunia yang diikuti dengan kenaikan permintaan BBM juga ikut mendorong sejumlah negara berpacu mengembangkan bahan bakar nabati (biofuel). Termasuk Indonesia yang sudah memulai proyek biofuel ini dua tahun lalu. Hingga, mampukan produsen pelumas domestik menjawab tantangan ini di tengah masih maraknya pemalsuan produk?

Posted in: Manufaktur