Industri Pestisida Tertekan

Posted on Juni 10, 2008

2


NASIB industri pestisida nasional tahun depan diperkirakan kian sulit dengan tertekannya kemampuan produksi dan margin usaha, kendati pertumbuhan pasar domestik di sektor tersebut masih bisa naik hingga di atas lima persen per tahun.

Beberapa faktor yang dinilai bakal menghambat kinerja industri pestisida itu, antara lain kenaikan harga bahan baku impor sampai tiga kali lipat, keputusan pemerintah menaikkan tarif bea masuk (BM) produk pestisida dari yang semula nol persen menjadi hingga 10 persen, persoalan bea cukai yang tak kunjung selesai, dan sejumlah aturan lain dari Departemen Pertanian (Deptan) yang memberatkan.

Ketua Umum Himpunan Masyarakat Pestisida Nasional (HMPN), Mardiyono Supriyadi mengatakan, hingga kini keberpihakan pemerintah pada nasib industri pestisida di dalam negeri yang memproduksi herbisida (obat pembasmi rumput), insektisida (obat pembasmi serangga), dan fungisida (obat pembasmi jamur) masih belum tampak.

Hal itu, ujar dia, terlihat dari sejumlah kebijakan yang justru disinsentif bagi kalangan industri. Regulasi tersebut, yaitu pemberlakukan kenaikan tarif BM bagi beberapa produk pestisida sejak Januari 2007 lalu, seperti parakuat diklorid naik menjadi 10 persen dari semula 5 persen, glifosat naik menjadi 10 persen, dan 2.4 D isobutil ester yang juga naik 10 persen.

Padahal, lanjut dia, sekitar 90 persen kebutuhan bahan baku untuk produk pestisida masih diimpor. Sedangkan, sisanya 10 persen telah ada yang mampu memproduksi di dalam negeri. Kendati, kondisi produsen bahan baku itu juga memprihatinkan. Sebab, pemerintah tak memberikan proteksi khusus bagi jenis bahan baku pestisida yang mampu diproduksi di dalam negeri berupa kenaikan tarif BM.

”Akibatnya sektor usaha hulu pestisida juga menjadi susah bersaing. Karena harga impor terkadang lebih murah. Dan, biaya produksi kami juga semakin membengkak akibat lonjakan tarif BM. Imbasnya, produsen pestisida kini terpukul,” katanya.

Selain itu, ujar Mardiyono, hingga kini produsen pestisida juga sering berurusan dengan pihak Bea Cukai untuk persoalan yang dianggap tak perlu. Dia memisalkan, soal pengertian HS Number. Terkadang, ada beberapa produk yang semula sudah sering diimpor, tapi tiba-tiba harus terhambat lantaran diminta surat izin ini dan itu oleh Bea Cukai.

Situasi tersebut, ujar dia, tentu membuat para pengusaha pestisida mengeluh. Sebab, untuk mengurus izin memakan waktu tak kurang dari enam bulan. Di samping, terdapat pula sejumlah pelabuhan di daerah yang petugasnya kerap menahan produk yang dikirim oleh produsen pusat di Jakarta dengan alasan beragam, sehingga pasokan produk ke daerah menjadi terhambat.

”Ini semua menjadi beban biaya bagi kami. Karena itu, untuk menyelematkan industri ini pemerintah perlu memberikan insentif, berupa penghapusan BM dan kemudahan perizinan,” tuturnya.

Naikkan Harga
Anggota dewan penasihat HMPN, Enceng Surahman menambahkan, salah satu pilihan paling logis untuk membuat industri pestisida nasional mampu bertahan dalam situasi sulit saat ini adalah dengan menaikkan harga produk tersebut pada 2008 di tingkat konsumen.

Menurut dia, bahan aktif pestisida yang merupakan derivatif atau produk turunan minyak bumi saat ini juga ikut terimbas naik, sehingga mendongkrak harga bahan baku produk itu.

”Kenaikan harga minyak bumi hingga melebihi US$90 per barel menjadikan bahan aktif pestisida terutama glifosat naik dari sebelumnya US$2,9 per kilogram menjadi US$7,4. Ini kan hampir tiga kali lipat,” katanya.

Enceng mengungkapkan, di negara produsen glifosat, seperti China, India dan Eropa, harga komoditas tersebut sudah meningkat tinggi. Selain itu juga terjadi kelangkaan produk, sedangkan Indonesia sangat membutuhkan produk tersebut.

Glifosat, tambahnya, banyak digunakan untuk memproduksi herbisida atau pembasmi rumput dan gulma yang saat ini permintaannya tinggi di sektor perkebunan, seiring meningkatnya luas perkebunan sawit di tanah air.

Terkait besaran kenaikan harga pestisida itu, Mardiyono memperkirakan harga pestisida yang menggunakan bahan aktif glifosat seperti herbisida naik sekitar 10-15 persen. Sedangkan pestisida lain sekitar 5-10 persen. ”Kalau yang tadinya Rp34.000 per liter akan menjadi Rp40.000,” tuturnya.

Mardiyono mengungkapkan, saat ini pangsa pasar pestisida produksi 32 perusahaan yang tergabung dalam HMPN sebesar 30 persen dari total pasar pestisida nasional yang mencapai Rp3,2 triliun. Dia menargetkan capaian itu meningkat sampai 70 persen.

Posted in: Agribisnis