Di Balik Kegamangan Krakatau Steel

Posted on Juni 11, 2008

0


PT Krakatau Steel (KS) tengah gundah gulana. Rencana raja baja Lakshmi Narayan Mittal untuk ikut mendapatkan jatah saham di perusahaan itu justru dinilai bukan menjadi kabar baik.

Pihak manajemen lalu sibuk merayu pemerintah melalui Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil agar tak serta merta menyetujui pinangan Mittal. Di jalanan, ratusan pekerja Krakatau Steel pun tak kalah gencar bereaksi. Mereka menyambangi Jakarta untuk berdemonstrasi. Sekedar ingin berteriak kencang: tolak rencana Mittal.

Ihwal sikap negatif Krakatau Steel terhadap Mittal tersebut tentu bukan tanpa musabab. BUMN penghasil baja ini menilai tak ada masalah serius yang sedang menimpa perseroan sehingga harus melogo sahamnya ke perusahaan lain. Kinerja Krakatau Steel pun kian menanjak. Apalagi, pada tahun ini, mereka juga tengah ancang-ancang untuk bisa masuk lantai bursa.

Karena itulah, meski sadar dituntut agar dapat menaikkan kapasitas produksi, tapi perusahaan telah memiliki skenario lain. Salah satunya, dengan menjajaki mitra strategis bersama perusahaan lain, seperti produsen baja Essar atau Tata. Jadi bukan dengan Arcelor-Mittal.

”Browsing (mencari informasi) saja di internet. Banyak keluhan dari perusahaan-perusahaan di negara lain yang pernah diakuisisi Mittal. Mereka (Mittal) mulai dengan janji-janji manis. Tapi belakangan mereka patuk tangan dan kepala kita,” ujar Direktur Utama Krakatau Steel, Fazwar Bujang.

Fazwar mengatakan, ia tak pernah meragukan ketangguhan Arcelor-Mittal sebagai produsen baja terbesar dunia. Tapi, dalam perhitungan bisnis, keinginan Mittal tersebut tetap saja merugikan Krakatau Steel sebagai BUMN.

Dia juga meragukan komitmen investasi Mittal sebesar US$3 miliar di Indonesia. Sebab, berdasarkan fakta yang dia peroleh, Arcelor Mittal tidak pernah mau mengeluarkan investasi sebesar itu di negara mana pun.

”Untuk investasi green grass project (investasi baru) sebesar itu, saya meragukan. Meski Mittal punya uang banyak, sumber pendanaan investasinya harus dari berbagai pintu. Tidak mungkin diambil seluruhnya dari perusahaan hanya untuk ambisi rencana tersebut. Pengusaha pasti meminimalisasi risiko,” katanya.

Memang, rekam jejak Arcelor-Mittal di sejumlah negara dikenal buruk termasuk salah satunya di Perancis. Usai memiliki pabrik baja di negara itu, pemerintah setempat malah harus mengeluarkan dana setidaknya 40 juta Euro untuk menebus kembali perusahaan baja nasionalnya.

Lantas, pada 2002 Lakshmi Mittal sendiri pernah terlibat skandal politik di Inggris. Skandal ini dikenal dengan nama Gartwge gate yang turut menyeret mantan Perdana Menteri Inggris Raya, Tony Blair. Saat itu, sumbangan Mittal Steel kepada Partai Buruh senilai 2 juta pounds atau sekitar Rp35 miliar dianggap sebagai langkah Mittal agar mendapatkan keuntungan dari PM Blair.

Namun, di luar kegamangan PT Krakatau Steel atas jejak Mittal itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), Ahamad Safiun punya pendapat lain.

Dia menilai, rencana Arcelor-Mittal berinvestasi di Indonesia memang bisa mengancam dominasi Krakatau Steel atas pasar bajanya di dalam negeri. Namun, di sisi lain, hadirnya pesaing BUMN itu bakal menguntungkan industri hilir.

”Semua bentuk investasi harus diterima dengan baik, karena itu akan menciptakan lapangan kerja,” katanya.

Menurut dia, segala bentuk kekhawatiran terhadap masuknya raksasa baja dari India itu tidak perlu diperdebatkan. Sebab, Indonesia telah memiliki Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang mengawasi perilaku usaha.

Safiun menjelaskan, rencana Mittal membangun industri baja di Indonesia bisa berdampak baik terhadap persaingan usaha di sektor baja nasional. Pasalnya, selama ini industri baja di Indonesia dikuasai Krakatau Steel. Hadirnya pesaing akan membuat BUMN ini lebih kompetitif dan efisien.

Sebabnya, jika ada persaingan antarprodusen, maka harga produk baja di dalam negeri akan cenderung lebih murah. ”Selama ini, harga baja di dalam negeri cenderung mahal karena KS tidak bisa efisien,” ujarnya.

Safiun mengatakan, bertahun-tahun, Krakatau Steel memilih untuk mengolah slab (bijih besi yang sudah diolah) menjadi baja. Hal itu dilakukan untuk mengakali tingginya harga gas dan listrik domestik. Karena itulah, bea masuk (BM) slab selalu nol persen, karena ada kepentingan Krakatau Steel sebagai BUMN baja.

”Kalaupun sekarang mau membuat pabrik di Kalimantan Selatan itu angan-angan saja. Sebab, mereka lebih enak impor 100 persen slab daripada olah bijih besi sendiri,” tuturnya.

Di sisi lain, Arcelor-Mittal, berencana membangun industri baja dari hulu ke hilir, atau membuat pabrik pengolah bijih besi hingga memproduksi baja jadi.

Hal itu, lanjut Safiun, akan bisa meningkatkan nilai tambah (added value) sumber daya alam Indonesia. Jika integrasi hulu ke hilir yang dibangun Mittal terealisasi, maka dominasi Krakatau Steel di sektor industri baja bisa terancam.

”Ya jelaslah, Krakatau Steel pasti menolak kehadiran Mittal karena takut tersaingi,” paparnya.

Seperti diketahui, saat ini, Arcelor-Mittal menguasai sekitar 10 persen dari total perdagangan baja dunia, termasuk baja untuk sektor otomotif, rumah tangga, dan industri lainnya. Perusahaan ini memiliki total aset sekitar Rp500 triliun dan berproduksi 45 kali lipat Krakatau Steel yang hanya beraset Rp11 triliun.

Anggota Tim Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mudrajad Kuncoro berpendapat, kehadiran Arcelor-Mittal ke Indonesia pasti akan mengubah peta persaingan industri baja nasional.

Dia mengatakan, selama ini Krakatau Steel merupakan pemain tunggal dan pemasok utama industri hilir baja domestik, sehingga masuknya produsen baja terbesar dunia asal Inggris ini akan menjadi pesaing utama BUMN itu. ”Kalau investasi sebesar itu terealisasi, pemonopoli lama akan tergeser,” ujarnya.

Menurut Mudrajad, secara teoritis pemonopoli selalu menjadi penentu harga (price setter) dan sangat antipersaingan, sehingga akan selalu menciptakan halangan (barrier to entry).

”Karena itu, pemerintah perlu menjelaskan apakah barrier to entry itu akan dicabut dengan mengizinkan Arcelor-Mittal masuk ke Indonesia yang padat modal dan high risk atau sebaliknya (menerapkan barrier),” kata dia.

Wakil Ketua Umum Gabungan Produsen Pipa Baja Indonesia (Gapipa) Untung Yusuf mengatakan, industri hilir dalam negeri menyambut baik rencana Arcelor Mittal membangun pabrik baja terintegrasi di Indonesia. Sebab, selama ini pasokan bahan baku pipa berupa baja canai panas (hot rolled coils/HRC) dalam negeri tak mampu mengimbangi kebutuhan industri.

Untung menyarankan Krakatau Steel agar mau bermitra dengan Arcelor-Mittal demi meningkatkan kapasitas produksi nasional. Keputusan ini dinilai lebih tepat mengingat perusahaan baja tersebut memiliki kemampuan teknologi yang sangat efisien.

”Kalau perusahaan baja terbesar di dunia itu dibiarkan bergerak sendiri dalam membangun perusahaan baja berkapasitas dua kali lipat dari KS, BUMN baja kita pasti akan panas dingin. KS harus bekerja sama kalau tidak ingin tergerus,” katanya.[!]

Posted in: Korporasi