Kecukupan Pangan Harus Sejahterakan Petani

Posted on Juni 11, 2008

0


KABAR gembira itu datang dari Departemen Pertanian (Deptan). Mulai 2008 ini, tak usah lagi takut produksi beras nasional bakal susut. Malah, bisa dikata berlebih. Stoknya pun dijamin aman. Jadi, tak perlu khawatir akan terjadi krisis beras di republik ini.

Kemunculan sikap optimistis itu, tentunya tak terlepas dari keberhasilan Deptan menggenjot produksi beras nasional pada tahun lalu. Lihat saja, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, hingga akhir 2007 produksi beras naik 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ramalan (Aram) III BPS menyebutkan, produksi gabah kering giling (GKG) pada 2007 mencapai 57,05 juta ton.

Capaian ini amat fantastis. Sebab merupakan pertumbuhan produksi beras terbesar dalam 15 tahun terakhir. ”Pertumbuhan produksi padi pada 2003, 2005, dan 2006 saja masing-masing hanya 1,26 persen, 0,12 persen, dan 0,46 persen. Sekarang, kami berhasil menaikkan produksi beras sampai 4,7 persen. Ini luar biasa,” kata Menteri Pertanian (Mentan), Anton Apriyantono di Jakarta.

Karena itu, Mentan yakin, meskipun berbagai persoalan, seperti banjir atau La Nina diprediksi mempengaruhi produksi padi tahun ini, tapi produksi beras nasional pada 2008 masih dapat terus meningkat hingga lima persen, atau naik 0,3 persen dari 2007 lalu.

Perhitungan Anton sederhana. Dengan luas tanam padi selama musim tanam sebesar 12,5 juta hektar, kegagalan produksi diperkirakan hanya mencapai 100.000 hektar saja. Nilai ini masih terbilang amat kecil. Karena baru akan menurunkan produksi padi kurang dari 0,8 persen.

Apabila target peningkatan produksi pemerintah sebesar lima persen tercapai, dikurangi kegagalan akibat bencana banjir atau La Nina 0,8 persen, maka masih terjadi peningkatan 4,2 persen. Dengan menghitung produksi GKG 2007 sebanyak 57,05 juta ton, setidaknya akan ada tambahan produksi GKG sebanyak 2,39 juta ton. ”Ini masih cukup besar.”

Apalagi, lanjut Mentan, Departemennya tak pernah main-main untuk dapat terus mendongkrak produksi beras nasional. Berbagai gebrakan jitu pun siap dilakukan supaya target produksi tersebut dapat berjalan mulus.

Deptan, lanjut dia, kini tengah menjalankan gerakan penanganan pascapanen dan pemasaran hasil pertanian. Dengan gerakan ini, akan terjadi penghematan potensi kehilangan hasil hingga 2,5 persen dari total potensi kehilangan hasil sepanjang panen sebesar 20,4 persen. ”Jadi, ada tambahan produksi GKG sebanyak 1,4 juta ton.”

Dengan begitu, ujar Mentan, perkiraan total tambahan produksi GKG tahun 2008 sebanyak 3,79 juta ton atau setara 2,46 juta ton beras. Dengan asumsi rendemen 65 persen.

Pastinya, masalah baru akan muncul manakala target peningkatan produksi beras lima persen itu tak tercapai. Namun, jangan keburu gelisah. Karena, Anton siap mennggelontorkan lebih bantuan benih varietas unggul bersubsidi pada 2008 ini.

”Tahun lalu yang terealisasi baru 30 persen. Itu saja sudah bisa meningkatkan 4,7 persen. Tentu, tanpa mengecilkan peran perbaikan irigasi, penyuluhan, peningkatan HPP (harga pembelian pemerintah), pemupukan, dan bantuan tenaga penyuluh pertanian,” ujarnya.

Oleh karena itu, dengan mengalokasikan sisa bantuan benih unggul ke petani sebanyak 60 persen atau senilai Rp360 miliar, peningkatan produksi beras lima persen bukan sesuatu yang mustahil.

Menurut Anton, ke depan, selain meningkatkan produktivitas dengan benih unggul, upaya lain yang akan ditempuh adalah dengan menaikkan index per tanaman. Sebab, selama ini index per tanaman padi secara nasional baru sekitar 1,5-1,6 per tahun.

”Jika bisa ditingkatkan menjadi 2,0 per tahun terbuka menambah produksi lebih dari 13,5 juta ton padi atau setara 9 juta ton beras,” ungkap Anton.

Selain itu, Mentan menegaskan, perlu dipahami konsep ketahanan pangan tak sekedar masalah kecukupan. Melainkan soal keterjangkauan dan kesejahteraan bagi petani. Dia ingin, bahan pangan itu cukup tersedia memenuhi kebutuhan konsumsi, harga terjangkau, dan yang tak kalah penting adalah petani terjamin kesejahteraannya.

Karena itu, untuk menjamin keseimbangan tiga hal ini, dia mengatakan mutlak dibutuhkan instrumen kebijakan yang memadai berupa pemberian insentif dan proteksi bagi petani.

”Toh, pertanian tak hanya berperan menyediakan pangan, tapi juga solusi untuk pengentasan kemiskinan. Bahkan, solusi pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

Memang, Anton patut berbangga. Sebab, 2007 adalah tahun penuh prestasi bagi Deptan. Sektor pertanian tercatat sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut BPS, pada triwulan I 2008, sektor pertanian juga mencapai rekor sebagai sektor dengan indeks tendensi bisnis (ITB) tertinggi dibanding sektor lain. Yakni, nilai ITB mencapai 128 sementara rerata sektor lain baru 114,5.
Karena itu, dengan serangkaian program dan kebijakan yang ada, Mentan yakin indikator keberhasilan pembangunan pertanian bisa meningkat lagi.

Apalagi berbagai insentif yang selama ini diberikan juga terus naik secara signifikan. Seperti, subsidi pupuk meningkat dari Rp5,8 triliun pada 2006, Rp7,5 triliun pada 2007, sampai Rp20 triliun pada 2008 ini.

Berikutnya masih ada subsidi benih unggul bagi padi, jagung, dan kedelai, subsidi modal dalam bentuk subsidi bunga, penjaminan, dan beberapa skim paket kredit lunak.

”Sementara proteksi bagi petani masih diterapkan. Misalnya, berupa pembatasan impor komoditas dan penerapan BM. Ini kami lakukan agar petani kita bisa ikut sejahtera.” [!]

Posted in: Agribisnis