Kenapa Takut Makan Tiwul?

Posted on Juni 11, 2008

0


TETES peluh jatuh dari muka Mbok Tumirah. Di sebuah dapur berdinding geribik itu, ia tampak begitu sibuk menyelesaikan kukusan singkong rebusnya.

Wajah Mbok Tumirah terlihat beranjak renta. Kulitnya pun tampak mengkriput. Maklumlah, tiga bulan lagi usianya genap 80 tahun.

Namun, meski begitu, kedua tangan Mbok Tumirah tetap saja cekatan membolak-balik rebusan penuh singkong dalam wadah panci besar itu. Ia laiknya ibu baru berumuran empat puluhan tahun. Mbok Tumirah memang tampak masih amat bertenaga.

Sesekali, tawa pun riuh pecah di antara letupan bunyi tungku kayu bakar miliknya. Sore itu, dia memang tak bekerja sendirian. Ada empat orang lain turut hilir mudik membantu. Kesemuanya perempuan setengah baya.

”Hampir tiap hari pekerjaan saya begini. Bikin tiwul. Lumayan kok, hasilnya. Siapa bilang kalau tiwul itu makanan wong cilik? Miskin!” tuturnya.

Mbok Tumirah adalah warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Yogyakarta. Di tempat asalnya itu, ia dijuluki sebagai juragan tiwul bermerek Yu Tum.

Bilik dapur berukuran sedang tadi merupakan kantor kerjanya. Peralatan di ruangan itu pun bisa dibilang begitu sederhana. Hanya ada meja berukuran 1,5 meter ditambah lagi tiga tungku api dari batu bata berbalut semen yang selalu menyala.

Aneka perabotan dapur pun tak tertinggal turut menyelip di balik dinding gedhek bambu itu. ”Sudah sepuluh tahun saya menggeluti tiwul manis,” kata Mbok Tumirah, atau yang akrab disapa Yu Tum. ”Tapi, jangan salah lho? Dari tempat ini, saya bisa memopulerkan Tiwul. Sampai dikenal kemana-mana,” lanjutnya.

Mbok Tumirah memang boleh berbangga hati. Tiwul buatannya, Yu Tum, berhasil merambah ke rumah-rumah mewah. Bukan cuma di Yogyakarta. Namun, masuk pula sampai Jakarta. Malah, sejumlah warga asing ikut terpikat menyicipi makanan khas Gunungkidul tersebut.

”Waktu itu kan ada pameran di Jakarta. Lalu, banyak warga Singapura dan Malaysia datang. Mereka terus beli tiwul saya. Katanya, enak!”

Padahal, Yu Tum sendiri dulu tak pernah berpikir untuk mau mengembangkan tiwul. Baginya, jenis makanan ini tak laik konsumsi. Tiwul adalah makanan orang miskin. Simbol kelaparan. Dikonsumsi karena terpaksa. Setelah persediaan beras habis.

Karena itu, semula dia lebih memilih berdagang di pasar Gunungkidul. Profesi ini pun ia lakoni puluhan tahun. Namun, usahanya itu jatuh bangun. Malah, lebih banyak buntungnya ketimbang raihan untung.

Suatu hari dia pun lantas berpikir. Mencari usaha alternatif. Nah, pilihannya itu jatuh pada tiwul. Yu Tum menilai makanan itu kini telah langka. Tiwul tergerus oleh beras sebagai salah satu menu bahan pangan utama. ”Banyak yang tanya ke saya, ’Jual tiwul gak?’. Ini kan peluang.”

Pada mulanya, produksi tiwul Yu Tum juga terbatas. Hanya dijual ke pasar dan masyarakat sekitar. Tapi, lama kelamaan peminatnya kian bertambah. Ia pun terus meningkatkan jumlah pembuatan sembari memperbaiki kualitas tiwulnya.

Apalagi, setiap ada tamu dari luar daerah, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga selalu menyajikan tiwul Yu Tum. ”Para tamu itu ketagihan lho mas sama tiwul saya. Terutama yang tinggal di luar atau kota Yogya. Lain hari, mereka pasti datang lagi ke sini. Beli banyak.”

Karena itulah, dari hari ke hari, jumlah pembeli tiwul Yu Tum terus meningkat. Bahkan, sekarang setiap hari ia dapat menjual 100 kardus tiwul dan gatot. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat. Apalagi jika musim pemudik lebaran sudah datang.

Yu Tum menjual setiap satu paket kecil tiwulnya seharga Rp10 ribu dan besar Rp12 ribu. Pembeli pun diberi pilihan, bisa minta tiwul saja, atau satu paket termasuk gatot. ”Harganya sama kok!.”

Akibat permintaan yang terus berlimpah tersebut, kini Yu Tum harus menyetok gaplek sampai satu ton per bulan. Tak sekedar itu saja, ia pun terus menambah jumlah tenaga kerja menjadi enam orang dari semula hanya empat orang.

Lantas, bagaimana urusan modal? ”Tak ada masalah! Awalnya, saya memang kesulitan. Tapi sejak permintaan terus meningkat, tak lagi ada hambatan akibat modal kerja,” ungkapnya.

Dengan usahanya itu, kini Yu Tum mulai menenggek untung. Tiap hari dia mendapat pendapatan bersih Rp300 ribu.

Yu Tum yang dulu bergelut langsung dengan urusan tepung gaplek, gula, nangka, dan kelapa, sekarang pun mulai mengurangi pekerjaan kasarnya. Dia tinggal memeriksa hasil karyawannya.

Kini, di usianya yang kian senja, Yu Tum bilang, ”Saya bahagia. Tak sekedar karena tiwul laris. Tapi, bisa mengobati kerinduan masyarakat yang kangen sama tiwul.” [!]

Posted in: Agribisnis