Sasak, Bertahan dalam Perubahan

Posted on Juni 12, 2008

0


Pagi baru saja beranjak. Tapi, hawa dingin belum juga pergi meskipun jarum jam telah menunjukkan angka 09.45. Di dusun itu, tiga perempuan setengah baya tampak sedang duduk-duduk di sebuah teras rumah beratap jerami sembari saling menyisir rambut satu sama lain.

Ketiganya sudah mulai renta. Keriput di wajahnya pun tak mampu lagi disembunyikan. Mungkin usia mereka telah menapaki 60 tahun ke atas. Kulit mereka tampak legam. Ketiga perempuan itu mengenakan kain sarung bercorak dengan atasan kebaya lusuh. Sesekali, tawa mereka terdengar pecah di sela-sela riuh obrolan yang teramat susah dimengerti bagi pendatang.

Sementara, rumah yang mereka tempati pun terlihat begitu “aneh”. Unik dan bisa disebut tradisional. Rumah tiga perempuan itu, hanya memiliki satu pintu yang berfungsi untuk keluar sekaligus masuk. Tak ada jendela yang dipasang pada seluruh dinding bambu rumah mereka. Lantai rumah pun dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau.

Tiba-tiba saja, salah satu dari mereka bangkit. Setelah melihat tiga laki-laki pendatang melintas memasuki dusun itu. Dengan cepat, perempuan tersebut lantas mengajak dua orang yang lain agar segera menghampiri si pendatang. Namun, langkah ketiganya juga diikuti oleh sejumlah perempuan dan anak-anak lainnya di dusun tersebut yang juga mengetahui ada tamu baru di kompleknya.

“Pak, ini untuk oleh-oleh. Kain khas Lombok. Ada tulisannya Sade juga. Dijual murah kok. Beli ya pak!,” kata salah satu perempuan di dusun itu kepada tiga orang lelaki pendatang tadi.

Mereka terus memburu. Bahkan, ada yang sampai merintih dikasihani. “Belilah Pak…satu saja…! Kalung bisa, atau gelang juga gak apa-apa.Saya jual murah saja. Kasihan sama kami pak! Itung-itung untuk bayar anak sekolah. Benar, murah kok. Satu saja ya…,” kata seorang dari mereka sambil mengatakan tenun yang kecil berharga Rp30 ribu dan yang besar Rp75 ribu.
Mendengar ucapan perempuan itu, hati lelaki pendatang luluh juga.Lelaki itu pun, kemudian mengeluarkan sejumlah uang lembaran dari dalam dompetnya.

Namun, melihat itu semua, warga yang lain di dusun itu malah kian memburu si lelaki pendatang. Mereka lantas berteriak, “Pak beli satu punya kami juga dong, biar dibagi rata! Tak hanya sama ibu itu saja!”

Mendengar teriakan itu, si lelaki pun tampak tak nyaman berada di tempat tersebut. Dia seperti ingin secepatnya berlalu meninggalkan dusun itu. Kendati, dia juga masih ingin berlama-lama menikmati keunikan salah satu perkampungan tradisional di Pulau Lombok tersebut.

Sasak di Sade
Sade, begitulah dusun itu disebut. Di dalamnya, terdapat 700 jiwa suku asli Pulau Lombok bernama Sasak. Di Lombok, warga suku Sasak mencapai 2,6 juta orang, atau 85 persen dari total penduduk setempat.

Desa Sade terletak di Kabupaten Lombok Tengah yang luasnya 1.208,45 kilometer persegi, diapit Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur. Wilayah utara terletak di kaki Gunung Rinjani merupakan dataran tinggi yang subur. Sementara itu, wilayah tengah berupa dataran rendah dan wilayah selatan tampak perbukitan yang langsung berbatasan dengan pantai.

Suku Sasak menempati rumah tradisional asli suku Sasak yang atapnya terbuat dari jerami dan berdinding bambu. Lantai rumah mereka dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau.

“Campuran tanah liat dengan kotoran kerbau itu yang membuat kondisi lantai mengeras, sekeras semen. Pembuatan lantai seperti ini sudah tradisi dari nenek moyang,” ujar Agus, warga setempat.

Seluruh komponen bangunan rumah tradisional itu tak ada yang menggunakan bahan bangunan modern seperti semen atau batu bata. Bahkan untuk menancapkan bambu itu, mereka tak menggunakan paku besi melainkan semacam ‘paku’ yang terbuat bambu pula.

Ciri khas lainnya interior terbagi menjadi dua susun. Begitu memasuki pintu, ruang pertama adalah tempat tidur khusus untuk orang tua, sedangkan ruang tempat tidur untuk anak-anak ditempatkan di ruang atas.

Ruang atas itu juga difungsikan untuk ‘dapur’ ala kadarnya dengan hanya menempatkan satu tungku. Tak ada lemari untuk menyimpan piring dan gelas. Mereka biasa menempatkan peralatan dapurnya di tempat yang terbuat dari bambu dengan cara digantung. Untuk tempat tidur pun, tak tersedia ranjang bambu. Warga setempat terbiasa rebah dengan beralaskan tikar anyaman bambu.

Meski demikian, rumah-rumah tradisional mereka telah teraliri jaringan listrik. Namun, masing-masing rumah hanya menggunakan lampu penerangan minimal 5 watt. Sedangkan sebagian rumah masih ada yang memfungsikan lampu pijar tradisional dari bambu. Lampu pijar itu dibuat dari bahan kapas yang ditumbuk dengan campuran biji jarak.

Kegiatan sehari-hari suku Sasak di kampung Sade ini adalah bertani.Namun, di antara mata pencarian utama warga Sasak di Sade, kerajinan tenun masih menjadi salah satu penopang utama kehidupan sehari-hari. Tenun tradisional itu telah dikerjakan 15 generasi sehingga lebih bersifat turun-temurun. Usia satu generasi berumur 100 tahun lebih.

Lumi, salah satu warga Sade menuturkan, tenun tradisional Sasak dikerjakan oleh para wanita saat kegiatan bercocok tanam tak bisa dilakukan akibat tidak adanya air. “Tenunan ini menjadi penopang hidup kami,” ujarnya.

Namun, cukup disayangkan, tenunan yang dikembangkan suku Sasak di Sade itu bisa dikatakan belum dikembangkan secara baik. Kondisi ini tampak dari hasil tenunan yang masih kasar.

Selain itu, kain tradisional Sasak juga dijual dengan harga lumayan tinggi, yakni berkisar Rp100 ribu-Rp250 ribu per buah. Kontras, dengan di pasar-pasar kain Jakarta, barang dengan kualitas sejenis bisa dibeli kurang dari Rp50 ribu. Sebabnya, sedikit pengunjung yang tertarik untuk membeli. Kalaupun ada, toh karena faktor lain, seperti iba atau memang si pendatang berkantong tebal.

Orang Sasak mengandalkan kaum wanita sedangkan para pria Sasak terlihat kurang kreatif membantu wanita menenun atau bekerja tambahan saat kemarau tiba. Kondisi ini terlihat jelas, hampir semua pria Sasak di dusun Sade hanya duduk-duduk dan mengobrol secara bergerombol.

Arif, pemandu wisata setempat, mengatakan Sade merupakan cagar budaya Sasak sehingga hanya diberdayakan sebagai tujuan wisata. Tetapi, sayang sarana ekonomi yang mendukung kehidupan sehari-hari penduduknya masih tergantung oleh satu komoditas saja, yakni kain tenun. Tanpa binaan kualitas atau cara pemasaran yang lebih baik.

Selain itu, di tengah geliatan ekonomi Lombok yang mulai menapak, kondisi ekonomi warga suku Sasak di Sade tetap saja belum berubah: mereka terus bertahan dalam ikatan tradisi kemiskinan.

Posted in: Sosial