Singapura, Swiss, Australia Sarang Aset Koruptor

Posted on Juni 12, 2008

0


KETUA Tim Pemburu Koruptor (TPK), Muchtar Arifin menyebutkan, selama ini Singapura, Swiss, dan Australia merupakan negara yang menjadi tempat penyimpanan aset para koruptor asal Indonesia. Karena itu, kini pihaknya terus membahas agenda perburuan aset koruptor asal Indonesia yang disimpan di tiga negara tersebut dengan otoritas kejaksaan setempat.

”Untuk saat ini, kami tengah fokus membahasnya dengan otoritas kejaksaan Australia,” katanya.

Muchtar menyatakan, salah satu aset koruptor yang tengah diburu di negari Kanguru tersebut adalah milik mantan bos Bank Surya, Adrian Kiki Ariawan. Adrian merupakan terpidana kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan kini masih bersembunyi di Australia.

Menurut dia, Adrian dijatuhi hukuman seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena menilep BLBI Rp1,9 triliun. Terpidana kasus BLBI itu lalu mengajukan banding, namun ditolak dan kemudian kabur ke Australia.

”Kami menargetkan dapat mengambil kembali aset 10 koruptor yang lari ke luar negeri ke Indonesia. Paling banyak aset para koruptor itu berada di Singapura, Swiss dan Australia,” tuturnya.

Sebelumnya, Indonesia pernah bekerja sama dengan Australia dalam upaya pengembalian buron mantan Komisaris Bank Harapan Sentosa (BHS) Hendra Rahardja. Dalam sidang in absentia, terpidana kasus BLBI senilai Rp1,9 triliun tersebut dijatuhi vonis penjara seumur hidup.

Proses ekstradisi Hendra Rahardja telah mencapai tahapan akhir dengan diterbitkannya extradition warrant atas nama terpidana itu. Namun pelaksanaan ekstradisi tertunda karena pengacara Hendra mengajukan judicial review terhadap keputusan tersebut sampai kemudian Hendra meninggal dunia pada 26 Januari 2003 di Sydney.

Jaksa Agung Muda (JAM) Tindak Pidana Khusus (Pidsus), Kemas Yahya Rahman mengatakan, pihaknya menargetkan membidik empat kasus korupsi dapat tuntas, sedangkan dua lainnya masih terkendala.

Keenam kasus tersebut di antaranya adalah OSO Bali Cemerlang, KPAL, pengambilalihan aset PT Kiani Kertas oleh Bank Mandiri, Otorita Asahan dan VLCC.

“Setelah dari target enam kasus selesai, kami akan targetkan lagi kasus baru sehingga secara perlahan-lahan selesai tuntas dalam arti bisa dilimpahkan ke pengadilan,” katanya.

Posted in: Politik