Sisa Jejak si Pembalak Liar Cigugur

Posted on Juli 29, 2008

0


HUJAN mengguyur Cigugur. Di sebuah rumah di bilangan Jurago, gelegak tawa si penghuni sontak terdengar berhenti saat laju Xenia biru datang menghampiri. Seorang lelaki paruh baya di rumah itu pun, terlihat melongok ke luar. Matanya tajam menatap si pengemudi dalam Xenia biru itu.

”Ada apa Pak?” tanya si lelaki. ”Ini, mau tanya, kalau ke tempat penebangan kayu di Cigugur masih jauh gak Kang?” ujar salah satu penumpang di dalam Xenia itu. ”Tempat penebangan kayu yang mana ya? Di sini kan banyak Pak! Ada yang punya Perhutani. Terus, maunya yang resmi atau illegal?” kata si lelaki.

Mendengar jawaban ini, sang pengemudi Xenia itu pun seperti bingung. Ia lantas menatap dua orang lain di sebelahnya. Xenia biru itu ditumpangi oleh tiga orang. Semuanya laki-laki. Ada yang berkaos putih dengan perawakan mungil, berbadan sedang yang dari tadi memegang kemudi mobil, serta yang terakhir bertubuh lebih gempal dan gemuk dibanding dua orang penumpang lainnya. Ketiganya, kemudian saling pandang.

”Sudah mampir sini dulu saja, sambil sarapan. Lagi pula hujan. Jalan di atas pasti licin,” kata si lelaki yang menjadi pemilik rumah di Jalan Jurago, Desa Cigugur tersebut.

Pagi itu, di hari ketiga pekan keempat Juli 2008, tiga laki-laki di dalam Xenia biru tadi lantas tampak tergopoh turun dari mobil. Mereka lalu masuk ke rumah milik si lelaki paruh baya itu.

Kepada pria yang berperawakkan termungil, lelaki itu lantas menyebut namanya Ade Amiruddin. Ia menyatakan aseli warga Cigugur. Usianya kini menginjak 47 tahun.

Dari kecil, Ade memang sudah tinggal di desa yang menjadi jantung kota Kecamatan Cigugur, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Wilayah yang kini tengah bergejolak akibat aksi pembalakkan liar yang kian tak terkendali di kesatuan pengelolaan hutan (KPH) Ciamis milik Perum Perhutani.

Tercatat, sejak Januari—Juni 2008 lalu, 1.975 meter kubik kayu jati di hutan lindung Cigugur telah dijarah. Serikat Petani Pasundan (SPP) disebut-sebut sebagai dalang atas kejadian ini. Nilai kerugian negara akibat penjarahan tersebut ditaksir mencapai Rp2,9 miliar.

Sedangkan, total luas lahan yang dijarah itu meliputi 4.985 hektare kawasan hutan lindung dan produksi, serta 778,45 hektare kawasan konservasi yang dipakai perambah hutan 678,15 hektare dan pemukiman liar 100,3 hektare.

Polisi Daerah Jawa Barat pun lantas menggelar Operasi Hutan Lestari Lodaya untuk mencegah aksi pembalakan hutan ini. Operasi ini juga melibatkan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Komando Daerah Militer III Siliwangi, dan Kodim 0613 Ciamis

”Mas, kalau mau tahu soal penebangan kayu illegal, harus ke atas. Naik bukit. Jalannya jelek,” kata Ade melanjutkan pembicaraan. ”Masih jauh Pak?” tanya si pria bertubuh mungil. ”Masih. Ada 30 kilometer lebih,” jawabnya.

Pria mungil itu pun semakin merapatkan duduknya ke tubuh Ade. Dia bertanya, ”Siapa pelakunya sih Pak? Orang Cigugur saja?” ”Bukan! Orang sini malah gak ikut-ikut. Gak ada kok! Itu semua pendatang dari Tasikmalaya dan Garut. Orang SPP. Ya, kami ada sih yang ikut. Tapi cuma ngangkut kayu. Mereka kan sewa mobil kami,” kata Ade.

Ade Amiruddin kemudian menceritakan soal keberadaan sebuah perkampungan di atas bukit tempat para pendatang itu tinggal. Kampung itu dinamai Jelat. Di sinilah warga SPP tinggal. ”Naik saja ke atas. Nanti juga ketemu.”

Setelah hampir satu jam berbincang dengan Ade, ketiga pengendara Xenia itu pun bergegas pamit. Jarum jam sudah menunjuk pukul 08.30. Tujuan mereka: menuju Jelat.

Dan, ternyata tak mudah bisa sampai ke Jelat. Menunggangi sepeda motor pun terbilang sulit. Jalannya berbatu. Besar. Kecil. Apalagi pagi itu hujan terus turun. Jalan menjadi licin. Tanah, tiba-tiba berubah menjadi lumpur membalut batu kerikil.

Beruntung, si pengemudi Xenia itu terbilang mahir. Meski perjalanan ketiganya terbilang tak nyaman karena tubuh terguncang-guncang. Di sebelah kanan tampak rimbunan pohon dan sebelah kiri, jurang.

Sepanjang perjalanan, pengendara Xenia itu hanya berpapasan dengan sedikit orang. Namun, siapa sangka bila di atas bukit tersebut ada beberapa kampung dengan penduduk yang tergolong wah!

Umumnya, rumah-rumah di perkampungan itu, sudah bertembok semen. Lantainya pun beralas keramik. Jaringan listrik juga sudah tersambung. Antena parabola pun ikut menghiasi rumah-rumah mewah mereka.

Di tiap-tiap rumah itu, terdapat kubikan kayu berjajar panjang. Rapih dan teratur. ”Di sini memang sudah maju. Banyak kok orang berkunjung kalau musim tebang kayu,” kata Endang, warga setempat.

Dan, akhirnya tiga orang lelaki pengendara Xenia itu sampai juga di Jelat. Kampung ini sama sekali tak tercantum dalam peta resmi mana pun. Jelat merupakan sebutan bagi warga pendatang yang mendirikan bangunan di KPH Ciamis Perhutani.

Ketiga lelaki itu pun kemudian turun dari mobil. Mereka terkejut. Kaget. Kampung Jelat sudah tak berpenghuni. Kosong.

Di kampung ini ada delapan bangunan rumah. Semuanya hancur. Malah, ada yang dibakar. Pecahan kaca berserakan di sana-sini. Rupanya, si penghuni telah meninggalkan rumah setelah pihak Polda menggelar Operasi Hutan Lestari, April 2008 silam.

Kini, hanyalah sebuah tulisan yang tertinggal di Jelat: tolong Pak Polisi Perhutani diadili jangan malah memburu petani!

Ditandai:
Posted in: Sosial