Awas, Terjebak di Jalur Alternatif

Posted on September 17, 2008

1


SINAR mentari sore masih terasa begitu menyengat kulit. Kamis, 11 September 2008 di sebuah tepi jalan penghubung Bumiayu—Cirebon, Warno tampak tengah mengawasi 12 orang pekerja yang sudah sedari tadi pagi bermandi keringat menambali tiap sisi lubang jalan.

Tangan Warno menunjuk. Dia berseru,”Sebelah sini belum! Ayo…ayo…cepatan yang ini.” Tiga orang pekerja pun kemudian terlihat menuju arah jari Warno. Bak berisi batu koral didorong. Batu-batu itu lantas diserok. Ditaburkan merata ke tiap sisi jalan.”Nah, betul begitu.”

Hempasan debu sontak menerpa muka Warno saat deru truk berat seakan tiada henti melintasi jalur itu. Dari kanan dan kiri. Belum lagi laju mobil dan motor yang terus menyodok tak mau mengalah. Hujan yang tak kunjung turun di lintasan Bumiayu—Cirebon memang kian membuat debu-debu itu terbang liar terhempas angin.

Senyum Warno tiba-tiba mengembang saat seorang lelaki berbadan mungil memakai kaos oblong putih datang menghampiri. Dia berucap,”Maaf ya mas! perjalanannya jadi terganggu. Jalannya lagi rusak. Banyak lubang-lubang. Aspalnya juga mengelupas semua.”

Yang disapapun hanya terlihat nyengir mendengar ucapan pria 52 tahun asal Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tegal itu. Barusan, lelaki berkaos putih tersebut seperti sengaja menghentikan laju Xenia silver berplat Jakartanya ketika melintasi jalan rusak yang tengah diperbaiki oleh Warno.

”Lho memang kenapa sih Pak? Kok, bisa sampai rusak begini?” katanya. ”Ini gara-gara sering dilewati truk-truk itu mas. Belum lama juga kok! Paling mulai enam bulan lalu. Truk-truk itu lagi lalu lalang lewat jalan ini terus,” jawab Warno sembari menunjuk sebuah truk berat bernomor polisi awal E.

Dia pun lantas mengatakan bila truk-truk itu bakal terus-terusan melintasi jalur tersebut selama satu tahun ke depan. Truk ini mengangkut tanah dan batu untuk keperluan pembangunan jalan tol Cirebon—Tanjung. Karenanya, jalan pun jadi rusak. Selain itu, iring-iringan laju truk tersebut juga kerap menghalangi kendaraan lain yang ikut melalui jalan itu.

”Waktu mudik lebaran, truk ini juga terus lewat. Gak berhenti. Kontraknya sih sampai lima tahun pakai jalan ini,” katanya.

Jalur yang dimaksud Warno itu adalah Jalan Larangan yang menuju Bumiayu, Prupuk, Ketangguhan. Dalam peta mudik, jalan ini termasuk jalur alternatif bagi pemudik yang melalui pantai utara (Pantura).

Saat Idul Fitri menjelang, jalur Larangan memang kerap dilalui pemudik yang hendak menuju Purwekerto, Jawa Tengah. Di samping arus kendaraannya tak sepadat jalur utama Pantura, kondisi jalannya pun bisa dibilang cukup nyaman untuk dilintasi.

Namun, kini dengan beroperasinya truk-truk pengangkut tanah untuk jalan tol Cirebon—Tanjung, pemudik yang melewati jalur alternatif Larangan perlu berhati-hati.

Sebab, alih-alih ingin menghindari kepadatan lalu lintas di jalur utama, malah bisa jadi justru terjebak kemacetan. Bayangkan saja, setidaknya terdapat 75 armada truk milik kontraktor jalan tol yang setiap hari lalu lalang di jalan tersebut.

Truk-truk itupun, seperti dikatakan Warno bakal terus beroperasi kendati saat mudik lebaran tiba, atau terhitung H-7. Tentu, berbeda dengan jalur utama Pantura, di saat truk-truk bermuatan berat tak boleh lagi beroperasi. Ditambah lagi, jalan rusak dan berlubang-lubang di Larangan hingga mencapai 10 kilometer.

Sebenarnya, selain melalui Larangan, terdapat jalan alternatif lain untuk menuju Purwokerto, yakni melalui Pemalang, Kedung Jati, Bantar Bolang, Randudongkal, Belik, dan Purbalingga.

Namun, lintasan ini lebih berbahaya. Lampu penerangan jalan minim. Jalur berkelok naik turun dan harus melewati hutan jati serta pinus.

Parahnya lagi, saat tiba di Belik, tepat lereng Gunung Slamet, muncul kabut tebal yang akan menutup jarak pandang. Apalagi, saat musim kemarau datang seperti sekarang. Kabut tebal sepanjang 500 meter itu selalu muncul setelah Maghrib menjelang di bawah lereng Slamet.

Kepala Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Tegal, Sutaryo mengatakan, selain jalur utama Pantura, pihaknya sebenarnya juga terus memperbaiki jalan alternatif, seperti Pejagan, Kabupaten Brebes, hingga Prupuk, Kabupaten Tegal.

Menurut dia, pelebaran jalan masih terus berlangsung di perbatasan Tegal hingga jalur lingkar utara Pemalang. Sedangkan, penambalan jalan diutamakan di jalur tengah antara Tegal dan Purwokerto.

”Untuk jalur utama, kami telah lebarkan dari tiga lajur jadi empat lajur. Semuanya pakai beton semen,” katanya.

Dia mengatakan, untuk kesiapan arus mudik, perbaikan dan pelebaran jalan hanya sampai pengerasan dengan beton. Proses pengaspalan baru dilakukan setelah lebaran.

Dengan adanya pelebaran jalan, pada arus mudik nanti semua jalur di wilayah Brebes hingga Pemalang sudah terdiri atas empat lajur. Diharapkan, kemacetan lalu lintas tak akan terjadi meski jumlah kendaraan pemudik yang melewati Jawa Tengah diprediksi naik sekitar lima persen.

Alternatif Cirebon-Brebes
Sementara itu, untuk menghindari kemacetan di jalur Cirebon-Brebes yang membentang sepanjang 60 kilometer, setidaknya ada empat jalan alternatif yang bisa dilalui oleh pemudik. Semuanya pun bisa disebut sudah layak untuk dilewati.

Jalur alternatif pertama selepas Cirebon, yakni pertigaan Mundu dan Losari Kulon ke arah selatan menuju Ciledug (semuanya berada di wilayah Cirebon, Jawa Barat), kemudian masuk Kersana dan Ketanggungan (keduanya wilayah Kabupaten Brebes).

Bagi pengguna jalan yang suka memilih terus sampai perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah di Losari, Brebes, dapat menggunakan jalan alternatif yaitu pertigaan Pejagan, Tanjung, Brebes ke arah selatan. Jalan alternatif itu akan melewati Ketanggungan, Brebes. Semua jalur alternatif tersebut akan bertemu di pertigaan Klonengan, Prupuk, Kabupaten Tegal.

Dari pertigaan ini, pemudik selain dapat meneruskan perjalanan ke Purwokerto, juga ke Tegal, Semarang, seandainya di jalur utama Pantura terjadi kemacetan total. Di antara tiga jalur alternatif itu, pertigaan Pejagan, Brebes, tampaknya banyak dipilih. Mungkin, karena jarak dan waktu tempuh yang lebih pendek ketimbang dengan dua pintu masuk lain, pertigaan Mundu dan Losari Kulon.

Namun, bagi pemudik yang sudah tak sabar menghadapi kemacetan jalur Pantura, bisa memilih Mundu dan Losari Kulon sebagai pintu di jalur alternatif. Pada dua pintu masuk pertama ini, biasanya berbelok ke kanan (dari barat) melalui Mundu atau Losari Kulon. Letak geografis kedua jalan masuk tersebut memang lebih ke barat dibandingkan dengan dua pertigaan lain, dan masih dalam wilayah Jawa Barat.

Jalur alternatif yang melewati Pejagan tak hanya menghubungkan jalur Pantura ke jalur selatan (Purwokerto-Yogyakarta). Sebab, lewat jalur itu pula pemudik bisa mencapai Tegal. Daripada jika melintasi jalan utama, meski jarak dan waktu tempuh lebih panjang dan lama. Tapi jika ingin menghindari kemacetan, sekaligus memperoleh suasana lain, kehidupan dan alam desa, maka jalan selebar enam meter tersebut bisa memenuhi keinginan berekreasi.

Pada hari biasa, jalur Pejagan-Prupuk bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Sedangkan, jalur utama Losari-Brebes-Tegal hanya sekitar 30 menit. Sebab jalur alternatif tersebut memutar, sehingga jarak tempuh jalan itu menjadi dua kali lipat atau sekitar 60 kilometer dibandingkan dengan jalur utama. Namun, pada saat arus mudik dan balik lebaran, kondisi bisa berbalik.

Secara umum, kondisi jalan Pejagan-Prupuk cukup layak dilintasi. Mulai Pejagan-Cileduk-Kersana-Ketanggungan, pemudik akan berhadapan dengan kehidupan masyarakat desa. Jalur itu juga tak banyak dilalui kendaraan bermotor roda empat, namun sepeda motor, becak, dokar, dan sepeda onthel banyak lalu-lalang.

Dengan kondisi jalan yang sempit dan di kiri kanan terdapat perumahan, persawahan serta areal irigasi, pengemudi tak perlu melajukan kendaraannya dengan cepat. Sebab, selain lalu lalang warga dan anak-anak, pemudik juga dapat menyaksikan aktivitas lain, seperti melihat seorang nenek yang membawa kambing dengan becak sepulang dari pasar, orang-orang mandi dan mencuci di sungai yang mengalir di tiap sisi jalan.

Sesampai di Ketanggungan, pemudik yang ingin ke Tegal bisa langsung belok kiri atau timur, dari arah Pejagaan.
Dari pertigaan tersebut, Slawi (ibu kota Kabupaten Tegal) tinggal sekitar 25 kilometer. Hanya, kondisi jalan lebih sempit dan rusak. Sedangkan pemudik yang hendak menuju Bumiayu-Purwokerto, harus melewati Larangan, Songgom dan Pakulaut, perlu ekstra hati-hati. Karena seperti kisah di atas, kondisi jalannya selain terjal, juga banyak tikungan dan lubang. Sungai pun menghimpit di kanan dan kiri. Hampir tiap tahun di lintasan ini terjadi korban jiwa.

Di jalur ini juga banyak orang yang meminta uang dengan dalih memperbaiki lubang jalan dan mengatur lalu lintas. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan oleh anak-anak, remaja dan pemuda warga setempat.

Bagi pemudik, hindari melintasi daerah tersebut pada malam hari, kecuali jika berombongan. Sebab pada malam hari jalur tersebut kurang memungkinkan untuk dilalui, hampir tidak ada penerangan jalan di sana.

Cahaya yang ada hanya berasal dari lampu neon di beberapa pos ronda atau teras rumah penduduk yang tentu saja sangat tidak memadai. Jalur sepanjang 25 kilometer itu, hampir separuhnya berupa sawah, kebun bawang, jagung, atau kawasan nonpermukiman lain. Bisa dibayangkan, pada malam hari separuh lebih suasana jalan di sana gelap.

Parahnya lagi, di jalur tersebut tak terdapat pompa bensin. Bahkan, sangat jarang penduduk yang membuka usaha bensin eceran, tambal ban, bengkel, atau toko onderdil kendaraan. Oleh karena itu, perjalanan malam hari di jalur itu cukup riskan. Tak hanya ban pecah, bensin habis atau lampu mati, namun juga pemalak yang lebih berani jika beraksi pada malam hari.

Ditandai:
Posted in: Mudik