Bawang Merah, Urat Nadi Warga Brebes

Posted on November 25, 2008

5


jual beliSEKITAR 80 persen petani bawang merah (Allium cepa [Linn.]) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah berstatus buruh. Sekedar penyewa tanah atau berbagi hasil panenan dengan pemilik lahan. Tak salah apabila masyarakat sana menyebut: bawang merah adalah urat nadi bagi kehidupan kami!

Sebab, tak hanya hidup petani yang bergantung pada komoditas tersebut. Mulai dari kuli, tukang becak, para makelar, tengkulak, penyewa lapak, hingga pejabat berdasi turut maraup manisnya bisnis bawang merah.

Bahkan, dari 2,444 triliun produk domestik regional bruto (PDRB) yang di dapat Kabupaten Brebes untuk sektor pertanian pada 2005, 75 persennya berasal dari bawang merah.

Tidak berlebih apabila Wakil Bupati Brebes, Faris Sulchaq menyatakan, daerahnya menyuplai 75 persen produksi bawang merah di Jawa Tengah dan 35 persen kebutuhan nasional.

Setidaknya dari 166.117 hektar (ha) luas wilayah Brebes, 38,15 persen atau 63.375 ha di antaranya berupa sawah. Selebihnya adalah hutan negara, pekarangan, tegal/perkebunan, tambak, hutan rakyat, dan peruntukan lainnya.

Faris mengatakan, dari luasan areal sawah tersebut, 20.000 ha selama ini ditanami bawang merah. Komoditas ini ditanam di 10 kecamatan, seperti Larangan, Losari, Tanjung, Bulakamba, Jatibarang, Kersana, dan Wanasari.

Sementara itu, di Brebes bagian pantai utara (pantura), tepatnya Bumiayu dan Sirampog dipenuhi usaha perikanan dan tambak. Di Brebes selatan berupa hutan dan sayur-mayur.

”Tanaman bawang merah sampai saat ini masih menjadi primadona bagi petani di Brebes,” katanya.

Pernyataan Faris itu tentu bukan tanpa alasan. Sebab, menurut data yang disodorkan dinas pertanian setempat, produksi bawang merah di Brebes rata-rata telah mencapai 15—17 ton per ha.

Bahkan untuk jenis bibit tertentu ada yang mencapai hingga 20 ton per ha. Sedangkan untuk usaha tani bawang merah dengan luasan tersebut dibutuhkan biaya Rp27 juta-Rp28 juta, dan bisa memanen setiap dua bulan sekali.

Karena itu, Faris optimistis, sejatuh apapun harga bawang merah di pasar saat ini, petani masih tetap mendapat untung. Dia mengasumsikan jika harga komoditas tersebut Rp2.5000 per kilogram, maka penghasilan kotor setiap ha didapatkan Rp42,5 juta dengan angka produksi per ha-nya 17 ton.

“Jadi masih ada keuntungan yang diraih petani sebesar Rp13 juta-Rp14 juta dalam kurun waktu dua bulan,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Konservasi Tanah Kabupaten Brebes, Daryono menambahkan, dalam kurun waktu 6—7 bulan diperkirakan keuntungan petani di daerah tersebut mencapai Rp19 juta-Rp21 juta.

Hal ini, menurut dia, belum termasuk pendapatan dari tanaman sela yang hasilnya memang tidak menentu.

Namun sayang, urat nadi itu kini mulai pesakitan. Petani Brebes sedang menjerit. Kekeringan dan tingginya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) semakin menjepit.

Kondisi itulah yang menyebabkan produksi bawang merah Brebes pada Juli lalu anjlok 49,67 persen menjadi 116.706 ton dari 231.926 ton pada bulan yang sama tahun lalu. Sementara itu, jumlah areal tanaman bawang merah pada Juli 2006 juga hanya menjadi 13.397 ha, atau turun 45 persen dari 24.440 ha pada bulan yang sama tahun sebelumnya.

Keuntungan di atas kertas itu pun laiknya catatan kosong pemerintah daerah. Harga bawang merah selalu turun naik tidak karuan. Salah satu pemicunya adalah gelontoran bawang merah impor.

Selain itu, akibat belum adanya harga dasar seperti penentuan harga untuk gabah serta belum disertainya sistem dana talangan seperti yang diberlakukan pada petani tebu untuk anggota Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (Apteri), menjadi nasib si bawang merah tak menentu.

Taufiq, Kepala Desa Siandong Kecamatan Larangan, Brebes menyebut, Indofood yang semula diharapkan dapat sebagai mitra bagi petani, toh pada akhirnya lebih suka memilih bekerjasama dengan cukong-cukong besar.

“Belum lagi, 17 penyuluh lapang yang dialokasikan Pemda per kecamatan tak tersebar merata,” katanya.

Menjadi Idola
Bawang merah telah menjadi idola bagi warga Brebes, seperti petani Lampung dengan tanaman kopinya atau petani Gorantalo dengan tanaman Jagungnya.

Karena itu, Suharto, seorang petani bawang merah di Brebes berharap Pemda beserta dinas dan instansi terkait harus berusaha keras untuk turut melestarikan dan mengembangkan komoditas tersebut.

Salah satunya, lanjut ia, dengan memberikan akses pasar, permodalan bagi petani, dan kepastian harga. Dengan begitu, lanjutnya, petani akan lebih giat menanam bawang merah dan berupaya menembus pasar ekspor.

“Tapi, kalau selamanya begini akan berat,” ujarnya.

Faris sendiri menjelaskan, pihaknya sedang mengupayakan alokasi dana talangan untuk bisa membeli bawang merah petani dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) tahun ini.

Selain itu, Pemda juga telah menghimbau menerapkan sistem pola tanam yang teratur, yaitu pertama ditanami bawang merah lebih dahulu, kemudian dilanjutkan tanaman padi, dan kemudian bawang merah lagi (bawang merah-padi-bawang merah).

Pola tanam seperti itu dimaksudkan untuk menjaga tingkat kesuburan tanah sepanjang tahun sehingga tanaman mampu tumbuh, berkembang, dan berproduksi secara optimal.

“Ini bertolak belakang jika sepanjang tahun hanya ditanami satu jenis tanaman, yang berakibat terus merosotnya tingkat kesuburan tanah. Kami juga telah memberikan bantuan pupuk organik ke petani,” katanya.

Daryono menambahkan, pihaknya juga akan menjalin kerja sama dengan distributor pupuk. Sebab, setiap bulan dibutuhkan puluhan bahkan ratusan ton pupuk organik maupun non-organik.

Selain itu, melalui kerjasama pengadaan bibit unggul dengan Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, diharapkan kebutuhan bibit lokal dapat dipenuhi.

Karena selam ini dari rata-rata kebutuhan 1,2 ton bibit per ha, 40 persen di antaranya masih harus dipasok dari luar negeri, khususnya dari Filipina.

Ditandai:
Posted in: Agribisnis