Dijual Buntung, Tak Dijual Utang Melambung

Posted on November 25, 2008

0


asturiASTURI menatap. Getir. Baju biru yang ia kenakan pun, tak mampu membuatnya terlihat cerah. Debu yang beterbangan bersama deru mobil muatan yang melintas di sepanjang jalan perbatasan Siandong—Brebes, semakin membuat kusam mukanya.

Sekusam nasibnya kini, setelah harga bawang merah sebagai sumber pendapatan utama baginya, anjlok. Bahkan, dijual pun tak laku.

“Petani mau makan apa? Harga bawang murah mas. Mau dijual juga  susah,” ujarnya. “Memang sekarang harganya berapa, bu?,” tanya saya. “Per ons hanya Rp20. Padahal dulu sampai Rp40. Kalau satu gandeng  Rp16.000. Sudah itu, modal besar. Harga obat garamnya mahal. Utang saya jutaan. Mau dilunasi pakai apa? Jadi sering ribut sama bapak,” jawabnya.

Di balik caping hijaunya, Asturi menatap Wito, sang suami yang saat itu sedang sibuk memungut sisa panenan bawang merah di tengah sawah sana. Entahlah, ia pun tak habis pikir mengapa akhir-akhir ini jadi kerap ‘berantem’ dengan Wito.

Padahal, terkadang tidak ada alasan pasti bagi Asturi untuk memarahi Wito. Dia seorang pekerja keras. Wito pun telah berusaha semaksimal mungkin untuk menafkahi keluarga. Meskipun hingga kini, Wito belum mampu merenovasi rumah geribiknya dan menyekolahkan lima anaknya sampai jenjang yang layak.

Toh bagi Asturi, ia tak usah malu. Karena bukan ia saja yang mengalami. Tetangga sebelah juga sama. Setiap pagi sering ribut. Apalagi kalau sudah ngomongin soal bawang, inginnya marah-marah terus. “Memangnya kita mau makan bawang doang! Kan perlu pakai nasi,” katanya.

Selain itu, dia juga harus dibuat pusing, ketika Mang Kosim dan Haji Ruslan datang ke rumahnya. Pasti maksud mereka berdua akan menagih utang.

Sebagai ibu rumah tangga, ia tahu persis kondisi keuangan keluarga. Jadi, pada situasi saat ini dia hanya bisa bilang,”Lagi kosong mas, tolong beri waktu lagi! Nunggu bawangnya ke jual.”

Mang Kosim adalah penjual obat-obatan pembasmi hama dan penyakit untuk tanaman bawang merah, sekaligus tempat ia meminjam modal. Dia pemilik toko obat di desa sebelah, Tegalaga.

Sementara Haji Ruslan, merupakan pemilik tanah yang disewanya untuk menanam bawang merah musim ini. Wito dan Asturi menyewa, Rp1,2 juta per tahun untuk luasan 0,25 hektare (ha).

Memang, ia harus merasa iri, tatkala melihat nasib petani bawang merah di desa sebelah, seperti Klampok, Tegalaga, Brebes, dan Larangan. Nasib petani di desa tersebut tak seburuk Siandong.

Petani di tiga desa itu, umumnya berstatus ganda, sebagai petani sekaligus menjadi pedagang. Jadi, meskipun harga bawang merah turun, mereka masih bisa menikmati untung. Dengan menjual panenannya langsung ke Pasar Cibitung, Jakarta atau daerah lain, seperti Yogyakarta, Medan, dan Semarang.

Sedangkan ia, dan beberapa petani lainnya di Siandong adalah murni sebagai petani. Bahkah lebih layak disebut buruh. Yang sekedar berstatus penyewa lahan atau berbagi hasil dengan si pemilik. Kalaupun memiliki lahan sendiri luasnya tak mencapai seperempat hektare.

Selain itu, dia sepenuhnya juga bergantung pada harga bawang merah. Jadi, apabila harga komoditas itu terpuruk, maka keuangan keluarga akan turut ambruk.

***

“Pak, piye hasil seko pasar? (pak bagaimana hasil dari pasar?)” tanya  Asturi ke Wito. “Ya piye yo buuuuu, brambange ora payu! Ditaware murah. Masa arep didol wae, lha wong rugi yoooo, (Bagaimana bu, bawangnya tidak laku. Ditawarnya murah. Masa hanya Rp20. Rugi kalau dijual)” jawab Wito. “Lha iki utange wes numpuk kok yaaaaa…arep dibayar karo apa? Terus  seng kerja wingi yo urung dibayar! (Ini utangnya sudah menumpuk. Akan dibayar pakai apa? Lalu, yang kerja kemarin juga belum dibayar.”

Wito terdiam. Lantas berlalu. Dia pun ngeloyor ke dapur tanpa menjawab pertanyaan Asturi dan tak memedulikan tamu yang dari tadi telah menunggunya.

Yang ditinggalpun tampak belum puas. Ia mengejar Wito. Seraya membawa catatan-catatan yang ingin segera ditunjukkan ke lelaki berbadan kurus itu. “Pak, delo iki, catatane…ojo lungo dese! (Pak lihat dulu catatannya jangan  pergi dulu)”

Dengan cepat Asturi menunjukkan ke Wito satu per satu hitungan modal tanam bawang merah untuk musim ini yang telah ia buat. Besarnya mencapai Rp8 juta untuk luas tanam 0,25 ha, dengan perincian biaya membeli bibit Rp3 juta, olah tanah Rp1 juta, pupuk dan obat Rp2 juta, sewa tanah Rp1 juta, dan biaya tenaga kerja Rp1 juta.

Biaya itu pun belum ditambah ongkos tenaga kerja sendiri dan penyiraman yang harus dilakukan setiap tiga hari sekali sebesar Rp20.000 per sekali siram, akibat hujan yang tak kunjung turun.

Sedangkan dalam kondisi sekarang, hasil produksi bawang merah yang diperoleh Wito dan Asturi dari luasan tersebut turun drastis. Hanya mencapai 2,5 ton.

Jauh dari musim tahun lalu yang mampu menembus 5 ton per 0,25 ha-nya. Hal itu disebabkan, antara lain musim kering yang melanda sehingga kandungan air tanaman jenis umbi tersebut menyusut dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang meningkat.

Dengan hasil panen itu, Wito hanya mendapatkan Rp5 juta di saat harga jual Rp2.000 per kg. Jadi, apabila dipaksakan dijual, dia masih merugi Rp3 juta, sekedar untuk menutup biaya produksi.

Selain itu, Wito dan keluarga pun dituntut harus mencicil utang Rp100.000 per bulan kepada Haji Ruslan selama 12 bulan. Waktu awal menanam, dia meminjam Rp1 juta kepada pengusaha itu sebagai tambahan modal.

Kondisi keuangan yang meyempit itulah, membuat mereka semakin kalang kabut dalam memelihara tanaman bawang. Apalagi setelah musim kemarau datang. Kekeringan pun melanda. Sehingga diperlukan biaya tambahan untuk sewa pompa air dan pembelian solar.

Bantuan pemerintah daerah yang diharapkan pun tak kunjung datang. Wito menyebut, bantuan pompa air dari Pemda hanya dinikmati petani besar yang berstatus pengusaha. Sedang, buruh tani macam dia tidak diperhatikan.

Akibatnya, lama kelamaan dia pun tak mampu menanggung biaya penyiraman. Akhirnya, Wito memutuskan memanen lebih cepat tanaman bawang merahnya dalam umur 50 hari, yang semestinya dipanen pada umur 75 hari. “Saya berharap bisa dijual untuk menutup utang. Eh, kok malah gak laku-laku,” ujarnya.

Wito pun kini bingung. Mau dijual, ia rugi besar, tak dijual ia dikejar-kejar utang. Dia berharap ke pemerintah daerah agar dapat memberlakukan harga layak untuk bawang merah di tingkat petani, sehingga ia bisa menanam kembali untuk musim depan.

***

Hari merambat sore. Terik matahari kian redup. Asturi menatap kosong hamparan sawah yang dipenuhi tumpukan panenan bawang. Sudah tujuh hari bawang-bawang itu dibiarkan saja di lahan, karena belum ada yang membeli.

Hampir 30 tahun, dia memilih menjadi buruh tani bawang merah sebagai profesinya. Namun, situasi sekarang adalah yang terpahit sepanjang ia menyandang status tersebut.

Ia pun sadar, tak muda lagi. Wito dan dirinya kini telah memasuki umur paruh abad. Tenaganya sudah terbatas. Asturi ingin menikmati masa tuanya: rumah bisa direnovasi, anak bisa melanjutkan sekolah lagi, dan tidak tergantung sama harga bawang merah.

Asturi menggeser posisi duduknya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Seolah akan menghempaskan beban hidup yang selama ini ia tanggung. Dengan berbisik dia berkata,” Mas, teng Jakarta enten kerjanan mboten? Kulo purun!”

Ditandai:
Posted in: Agribisnis