Mahkota Dewa, Musuh Baru Aneka Penyakit

Posted on November 26, 2008

4


mahkota1DUNIA tanaman obat kini kedatangan “pendatang baru” yang lumayan hebat. Mahkota dewa namanya. Ia bisa membuat penderita penyakit ringan macam gatal-gatal, pegal-pegal atau flu, hingga penyakit berat seperti kanker dan diabetes, merasakan kesembuhan.

Buah tumbuhan mahkota dewa yang paling banyak digunakan sebagai obat.

Mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, Hi. Suprapno bernafsu melakukan pembibitan. “Saya punya ribuan bibit. Siapa yang berminat silakan datang,” kata warga Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedongtataan, Lampung Selatan (Lamsel) ini.

Di lahan perkebunannya, kini banyak bibit berjejer. Selaku penangkar bibit tanaman, dia juga menyimpan tanaman berkhasiat lainnya seperti kunyit putih, jahe merah, dll.

Betapa tidak, tanaman ini ternyata punya khasiat luar biasa. Ia bisa menyembuhkan gangguan kesehatan dari yang ecek-ecek hingga yang nyaris tak ada harapan sembuh. Kalau cuma pegal-pegal, sehari dua hari bakal hilang. Flu? Wah, itu tugas yang juga bisa dibereskan dalam sehari dua hari. Diabetes pun bakal takluk dalam beberapa bulan.

Bagaimana dengan kanker? Meskipun butuh waktu bulanan, tanaman ini pun sanggup melawannya sampai titik darah penghabisan. Paling tidak itu berdasarkan pengalaman empiris banyak orang, termasuk yang sembuh dari penyakit organ hati atau jantung, hipertensi, rematik, serta asam urat. “Saya sudah punya puluhan pasien, sebagian besar sembuh,” kata bapak berusia 75 tahun ini.

Untuk mengolah menjadi obat pun sangat gampang. Dengan menyeduh teh yang diracik dari kulit dan daging buah, cangkang buah atau daun mahkota dewa, bahan obat alami ini pun siap dipakai.

Kalau tidak menghendaki rasa pahitnya, kita bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat.

Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta dijuluki makuto dewo, makuto rojo atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara, orang-orang dari etnis Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka.

Bagi Suprapno, tanaman mahkota dewanya bisa dikomersialkan. Selain itu, dengan keahliannya yang sekarang dia bermaksud menolong sesama, terutama penderita penyakit tertentu dengan biaya yang seringan mungkin.

Morfologi
Tanaman mahkota dewa merupakan tanaman perdu dengan tinggi tanaman 150–250 cm. Menurut Suprapno, masa produksi 10–20 tahun. Buah mahkota dewa berbentuk bulat dengan ukuran bervariasi mulai sebesar bola pingpong sampai buah apel. Bagian tanaman yang biasa digunakan bahan obat adalah daun dan buahnya. Tanaman mahkota dewa biasa tumbuh di ketinggian 10–1.200 m dpl (di atas permukaan laut) dengan lokasi optimal 10–1.000 m dpl.

Untuk memperbanyakan tanaman menggunakan biji dari buah yang sudah matang. Cara penyemaian biji bisa dilakukan menggunakan media tanam berupa sekam bakar yang dicampur dengan pupuk kandang (kompos).

Kemudian tambahkan biomikro satu liter (bisa untuk 2 ton), lalu dicampur gula. Adonan yang dilapis-lapis ini kemudian dan ditutup. Baru setelah dua hari dan suhunya mencapai 50 derajat Celsius, pupuk dibuka dan diaduk dan ditutup kembali. Dalam tempo 15 hari pupuknya bisa dimanfaatkan. “Cara ini lebih bagus dari Urea. Lebih ampuh,” katanya.

Selama pesemaian dilakukan penyiraman rutin pada pagi dan sore hari. Sekitar 10–14 hari setelah penyemaian, mulai terlihat pertumbuhan daun. Bibit dipindahkan ke media penanaman pada umur 2 bulan atau di mana tanaman mencapai ketinggian 10–15 cm.

Tanaman berbunga pertama kali pada umur 10 bulan yang menjadi buah. Buah akan matang dan siap dipanen dalam waktu dua bulan. Buah yang matang akan berwarna merah. Cara perbanyakan tanaman yang lebih cepat adalah dengan teknik okulasi.

Suprapno yang senang mengutak-atik angka, menyebutkan dalam setahun per batang menghasilkan 5 kilo buah. Untuk 1 ha dengan jarak 2 kali 2 meter sama berisi 2.500 batang, hasilnya sekitar 10 ton. “Kalau harga sekilo Rp8 ribu hasilnya sudah Rp80 juta. Barang ini juga bisa menembus pasaran luar negeri,” ujar dia. Dia optimistis dengan memperbanyak tanamannya terbuka peluang baru meraih keuntungan berlipat.

Dari Alergi hingga Kanker
Sampai saat ini, setidaknya baru dr. Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi Universitas Gadjah Mada yang telah menelitinya. Itu pun masih terbatas pada pengujian terhadap efek antihistamin atau antialergi. Padahal, kalangan Keraton Solo dan Yogyakarta telah lama mengenalnya dan memanfaatkannya sebagai tanaman obat. Beruntung, lama-lama manfaat luar biasa ini bocor ke kalangan awam.

Sekarang, tanaman ini seakan turun dari langit sebagai dewa penyelamat orang sakit. Mereka yang telah merasakan khasiatnya mengemukakan berbagai kesaksian.

Dalam buku Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa karya Ning Harmanto, ketua Kerukunan Wanita Tani Bunga Lily, yang menekuni pengobatan dengan mahkota dewa, ada 26 orang yang mengakui keampuhannya atau ditulis berhasil sembuh dari sakitnya berkat mahkota dewa.

Di antara mereka adalah Tuti Ariestyani Winata. Setelah menjalani operasi pengangkatan kista di rahim, dia mengalami kemunduran kondisi tubuh. Badannya kurus, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, jari-jari kakinya menggemuk, tekanan darahnya naik-turun, dan Hb-nya sangat rendah.

Beberapa dokter yang dikunjungi mendiagnosis berbeda. Ada yang mendiagnosisnya menderita kanker hati, sirosis hati, dan ada pula yang menyatakan dia menderita hepatitis kronis. Tak kunjung memperoleh kepastian penyakit yang diderita, atas saran Ning, Tuti akhirnya mengonsumsi air rebusan daging buah mahkota dewa. Setelah enam bulan, Tuti merasa sembuh dan kondisi tubuhnya membaik kembali.

Tanaman tersebut secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai obat gatal-gatal akibat gigitan serangga atau ulat bulu, eksim, dan penyakit lain akibat alergi.

Penelitian lain masih kita tunggu untuk membuktikan khasiat luar biasa seperti yang dirasakan oleh sementara orang.

Namun, cerita dari mulut ke mulut rupanya membuat orang, terutama yang sakit berat dan umumnya hampir putus harapan, percaya. Maka, orang pun mulai beramai-ramai mencari bagian berkhasiat mahkota dewa. Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang melihat “wabah” ini sebagai peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.

Dijadikan Teh
Menanam mahkota dewa memang bukan perkara sulit. Tumbuhan, yang bisa hidup baik pada ketinggian 10–1.000 m dpl ini bisa ditanam dari biji atau hasil cangkokan. Meskipun penanamannya bisa di pot atau langsung di tanah, pertumbuhannya akan lebih baik jika ditanam di tanah. Tanaman dari biji biasanya berbuah pada umur 10–12 bulan. Yang berasal dari cangkokan, mestinya berbuah lebih cepat.

Buah inilah bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat alami, di samping daun dan batang. Dari ketiga bagiannya, yakni kulit dan daging buah, cangkang (batok biji), serta biji, yang dimanfaatkan umumnya kulit dan daging buah serta cangkangnya. Buah muda berwarna hijau dan yang tua berwarna merah cerah.

Sebuah penilitian yang lain menyebutkan dalam daun dan kulit buah mahkota dewa terkandung senyawa saponin dan flavonoid, yang masing-masing memiliki efek antialergi dan antihistamin.

Dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa sepet-sepet pahit. Sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Apa penyebabnya, juga belum diketahui dengan pasti. Sebab itu, tidak dianjurkan mengonsumsinya dalam keadaan segar.

Cangkangnya memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah.

Suprapno mengajurkan tidak mengonsumsi langsung bagian ini karena dapat mengakibatkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Namun, setelah diolah, bagian ini lebih mujarab ketimbang kulit dan daging buah. Ia dapat mengobati penyakit berat macam kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati.

Ada alasan mengapa biji mahkota dewa tidak dikonsumsi. Bijinya sangat beracun. Kalau mengunyahnya, kita bisa muntah-muntah dan lidah mati rasa. Sebab itu, bagian ini cuma digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit.

Sudah tentu menjadikan daging buah atau cangkangnya sebagai obat perlu pengolahan terlebih dulu. Bisa dijadikan buah kering, teh racik atau ramuan instan. Namun, yang sering dilakukan adalah menjadikannya teh racik dan ramuan instan. Bagian lain yang bisa menjadi obat adalah batang dan daun.

Sedangkan daunnya bisa menyembuhkan lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Cara memanfaatkan daun adalah dengan merebus dan meminum airnya.

Ditandai:
Posted in: Agribisnis