Pungkil & lemak kakao, bisnis yang belum tergarap

Posted on Desember 4, 2008

4


kako3SIAPA sangka kalau selain biji kakao, pungkil dan lemaknya juga bisa meraup untung. Pengerjaannya sederhana dan tak harus diolah oleh pabrik besar. Petani atau yang ingin bisnis kecil-kecilan dari perkebunan kakao bisa melakukannya.

Selama ini, petani hanya mendapat keuntungan Rp10.000 per 1 kg biji kakao kering. Padahal, petani bisa mendapatkan keuntungan lebih jika biji kakao dikelola menjadi lemak dan pungkil. Untuk 1 kg biji kakao dapat menghasilkan 3 ons lemak dan 6 ons pungkil. 1 ons lemak dihargai Rp5.000, sedangkan pungkil dihargai Rp2.500 per ons.

Cara mendapatkan pungkil sangat sederhana. Biji kakao yang sudah kering dipanaskan dalam suhu 30 derajat celcius dengan menggunakan open pemanas. Setelah itu, biji ditekan dengan menggunakan mesin pengelola biji menjadi lemak.

Dengan lemak yang didapatkan itu, petani dapat untuk berlipat. Untuk 3 ons harganya Rp15.000, sedangkan pungkil Rp15.000. Berarti, bila 1 kg biji kakao diolah menjadi lemak dan pungkil, maka petani mendapatkan untung Rp30.000 per kg.

Sayang, banyak yang belum mengetahui jika kakao juga menghasilkan lemak dan pungkil. Selain itu, ketersediaan mesin yang dapat memisahkan biji kakao dengan lemak dan pungkil juga sangat terbatas. Hingga sekarang, alat untuk pemisahan ini belum ada yang berkapasitas besar.

Padahal, konsumen yang meminta lemak kakao sangat tinggi. Lemak kakao yang bentuknya seperti lilin tersebut, amat dibutuhkan oleh banyak perusahaan kosmetik. Selain itu, lemak kakao dibutuhkan untuk memperhalus kulit muka. Jepang adalah negara yang sangat membutuhkannya untuk kosmetik.

Pungkil yang berbentuk ampas, juga bisa dijadikan campuran minuman kopi, ice cream, roti dan sebagainya sehingga lebih terasa nikmat.

Ditandai:
Posted in: Agribisnis