Virginia Ubah Wajah Motongbaan

Posted on Desember 11, 2008

1


lombokHAJI Pasahadi menyeruput secangkir kopi panas yang dihidangkan istri Putranom. Tak berselang lama, keduanya lantas terlihat asyik ngobrol ngalor-ngidul. Mereka tampak begitu akrab. Saling ngebanyol satu sama lain. Atau malah, kadang seperti saling ledek. Sesekali, gelak tawa pun terdengar riuh di antara jeda obrolan itu.

”Pak haji, bagimana tanaman tembakau saya itu?” tanya Putranom kepada Haji Pasa sembari menunjuk kebun tembakau di depannya. ”Wah, hebat tuh! Baru tanam saja sudah B2OF,” jawab Haji Pasa terkekeh. ”Ah, pak haji bisa saja. Saya ini kan cuma pemula. Beda dengan pak haji. Batuknya saja, sudah bisa jadi duit,” ucap Putranom berseloroh.

Keduanya kembali terbahak. Putranom melirik mimik Haji Pasa yang tampak tersipu. Maklum, perbincangan saat itu, tidak hanya menjadi konsumsi mereka berdua saja. Melainkan, turut hadir pula Krisyanto, seorang teknisi dari PT Sadhana Arifnusa, usaha milik Sunarjo Sampoerna, ditemani dua orang tamunya dari Jakarta. Dua orang tersebut sengaja datang ke lombok untuk mengetahui seluk beluk tembakau Virgina.

Siang itu, di medio September 2007, matahari mulai menapak terik. Namun, belum mampu menghangatkan kulit pori dua orang pendatang itu. Dingin masih terasa. Begitu sejuk. Di tempat peristirahatan milik Putranom, kelimanya tampak begitu menikmati susana sekitar. Akrab dan ceria. Hamparan hijau dan lebar daun-daun tembakau Virginia tersebut seolah turut membawa mereka ke alam mimpi.

Namun, tak berselang lama lamunan kelimanya pun tiba-tiba pecah oleh suara keras Putranom, ”Pak Haji, gak kawin lagi saja?” Haji Pasa kembali melirik. Dia tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sambil sesekali menyeruput kembali kopi hangat di depannya.

Ah, buat apa? Meski belum punya anak, tapi saya sudah cukup bahagia. Malah, ingin naik haji lagi,” katanya menjawab. ”Saya juga mau kayak Pak Haji. Nanti, kalau panen ini berhasil saya mau ke Mekkah,” kata Putranom. ”Makanya harus nurut tuh sama Mas Kris.”

Krisyanto, orang yang dimaksud hanya terkekeh. Dia tentu maklum keinginan kedua orang petani mitra binaan perusahaannya tersebut. Apalagi, Putranom adalah petani pemula. Ia baru tahun ini menanam tembakau.

Di Desa Montong Baan, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) sendiri, nama Haji Pasa bukanlah sosok asing bagi warga. Sedari dulu, pria berusia 44 tahun itu memang sudah cukup dikenal sebagai salah satu petani tembakau yang sukses menanam Virginia di Lombok Timur.

Padahal, mulanya, Haji Pasa bukanlah apa-apa. Dia hanyalah petani biasa seperti warga Lombok pada umumnya. Ketika musim penghujan tiba, dia memilih menanam padi di sawah, atau terkadang bercocok tanam jagung, kedelai, singkong, dan jenis umbi-umbian lainnya.

Sedangkan, bila musim kemarau datang, Haji Pasa tidak menggarap sawahnya. Dia berdagang kopi di pasar. Dari situlah, sumber keuangan keluarga dulunya diperoleh. ”Hasilnya tak pasti. Lebih sering susahnya,” ujar dia.

Namun, setelah 1995—1996, tiba-tiba nasib Haji Pasa berubah total. Terutama, saat Sunarjo Sampoerna melalui PT Sadhana Arifnusa mengembangkan pola kemitraan bertanam tembakau di daerahnya.

Keputusan Haji Pasa menjadi petani mitra binaan perusahaan itu pun ternyata berhasil. Kondisi keuangan keluarganya langsung berubah total. Dari yang sebelumnya kerap defisit menjadi begitu surplus. ”Tahun pertama panen, saya langsung bisa naik haji.”

Haji Pasa menambahkan, ”Jujur, mulanya saya grogi menanam tembakau. Begitu rumit dan susah. Tapi, untung ada pembimbing lapangan yang mengajari saya.”

Tetapi, bermula dari keberanian itulah, Haji Pasa sekarang menikmati hasil kerja kerasnya. Pada musim tanam 2007 ini saja, dia menanam 4 hektare tembakau Virginia yang produksinya mencapai 2,3 ton per hektare. Jika, tembakaunya sekarang dihargai Rp22.000 per kilogram oleh gudang, maka per hektarenya Haji Pasa mengantongi pendapatan kotor Rp50,6 juta.

Setelah dipotong dengan biaya usaha tani sebesar Rp14 juta per hektare yang digunakan untuk ongkos sarana produksi, tenaga kerja, bunga modal, dan sewa tanah, maka Haji Pasa mendapatkan keuntungan bersih Rp36,6 juta per hektare.

Dengan begitu, untuk 4 hektare tanaman tembakau yang ditanam, dia setiap tahun mendapatkan penghasilan bersih Rp146,4 juta. Apalagi, kini dia juga telah memiliki dua buah oven untuk pengering daun tembakau di dalam rumah sendiri. Karenanya, ongkos produksi yang dia keluarkan bisa semakin dipangkas.

Dari usaha tani tembakau itu pula, sekarang Haji Pasa telah mempekerjakan 60 orang tenaga buruh. Mulai dari mereka yang bekerja menggarap lahan persawahan hingga ibu-ibu di sekitar rumah untuk menggelantangkan daun tembakau.


***

SEBENARNYA menengok ke belakang, jauh sebelum Sunarjo Sampoerna masuk membangun gudang tembakau di Montong Baan, kondisi desa di Kecamatan Sikur tersebut bisa disebut jauh dari kata sejahtera.

Kehidupan ekonomi masyarakatnya pun cenderung apa adanya. Tak ada geliatan ekonomi berarti. Pun, nyaris tak pernah terdengar kisah-kisah manis seperti yang dialami Haji Pasa. Susana riang di perkampungan berpenduduk 13.331 orang itu pun dapat dibilang hampir sirna. Sebab, tingkat kriminalitas di desa cukup tinggi.

Padahal, baik Desa Montong Baan atau seluruh daerah lain di Lombok memendam potensi yang sangat besar. Khususnya untuk mengembangkan perkebunan tembakau jenis Virginia. Hanya saja, masyarakat Lombok waktu itu belum menyadari peluang emas yang dimiliki daerahnya tersebut. Kendati sudah terdapat beberapa petani di sana yang telah bercocok tanam tembakau.

Keengganan petani Lombok tersebut, tentu lebih disebabkan belum adanya bukti keberhasilan dan kepastian usaha dari bertanam tembakau Virginia. Meskipun sejak 1960-an, PTP 27 selaku badan usaha milik negara telah memulai mengoperasikan usaha tembakaunya di Lombok.

Selama ini, tembakau Virginia sendiri digunakan sebagai salah satu bahan campuran pembuatan SKM (sigaret keretek mesin) dan rokok putih. Selama ini, untuk memperoleh Virginia berkualitas, Indonesia masih mengimpor dari Brasil dan Amerika Serikat (AS). Padahal, di dalam negeri sendiri terdapat Virginia asal Lombok yang memiliki kualitas tak kalah bagusnya dengan negara lain.

Kenyataan inilah yang menyebabkan perusahaan rokok nasional akhirnya melirik Lombok sebagai basis produksi tembakau Virginia. Tercatat, sejak 1968–1969, dua perusahaan ternama, yakni PT British American Tobacco Indonesia Tbk (BAT) dan PT Faroka melakukan budidaya tembakau di Lombok. Selanjutnya pada 1995 dua perusahaan sejenis, yaitu PT HM Sampoerna melalui PT Sadhana Arifnusa dan PT Djarum mengkuti langkah BAT dan Faroka.

Khusus PT Sadhana Arifnusa, dalam pengembangannya perusahaan ini merekrut petani menjadi binaan sekaligus mitra. Kemudian mereka menyediakan biaya produksi dan menampung hasilnya. Tahun lalu, Sadhana memodali petani sebesar Rp30 miliar berupa kredit pinjaman. Perusahaan berperan sebagai pengagun modal.

PT Sadhana juga melakukan sistem kemitraan terpadu, dengan tidak mengajari petani binaan bercocok tanam tembakau saja. Melainkan dengan pengembangan model budidaya padi SRI organik dan penanaman jenis kayu-kayuan di sepanjang lahan milik petani.

Kuswanto Setyabudi, Field Manager Station PT Sadhana Arifnusa menceritakan, membangunkan petani Lombok untuk menyadari betul potensi tembakau yang dimilikinya butuh waktu panjang. Tak bisa instan. Lebih-lebih petani umumnya belum sepenuhnya percaya bahwa menanam tembakau Virginia akan menguntungkan bagi mereka.

”Makanya banyak yang masih ragu. Walaupun mereka awalnya telah setuju bermitra dengan kami, tapi belum ada yang mau bekerja,” tuturnya.

Kuswanto mengungkapkan, dengan bermodal keinginan kuat untuk memajukan petani Lombok, timnya di Sadhana lantas merancang sistem kemitraan yang cocok agar semua pihak tetap diuntungkan. Terutama agar petani bisa sejahtera, perusahaan mendapat kepastian pasokan dan kualitas bahan baku, dan kondisi lingkungan sekitar terjaga.

Waktu itu, langkah awal yang dia ambil adalah dengan mengintensifkan pendampingan dan penyuluhan kepada setiap petani binaan. Dengan hanya bermodal awal 7—8 tenaga teknisi, perlahan tapi pasti petani mitra Sadhana lalu diajari tata cara menanam tembakau yang benar. ”Tapi jangan disangka mudah. Banyak tentangan juga. Sedikit-dikit mereka teriak. ’Pak masa begitu nanamnya!”

Kisah menarik pun pernah dialami Kuswanto. Dua belas tahun lalu, dia diprotes seorang petani binaan gara-gara melakukan pengairan di bedengan tembakau milik mereka. Alasannya, tanaman tembakau itu tak perlu diberi air. Sebab air bisa membuat busuk akar dan akhirnya gagal panen.

Selidik punya selidik, ternyata protes petani tersebut disebabkan oleh ancaman sang istri yang meminta cerai bila tembakau miliknya sampai diairi. ”Istrinya takut menanggung utang yang besar kalau sampai gagal panen. Jadi dia minta cerai saja. Terus si suami ngancam saya,” tuturnya.

Suatu ketika, Kuswanto dan tenaga teknisinya juga pernah dikejar-kejar sambil dibawakan parang oleh Haji Siun gara melakukan pemotongan pucuk batang tembakau (toping). Haji Siun waktu itu berpendapat, toping sangat merugikan. Karena akan mengurangi jumlah daun tembakau, dari semestinya hingga 24—30 helai menjadi hanya 16—18 helai saja.

”Karena waktu itu mereka belum tahu manfaatnya apa? Makanya protes terus. Tapi itulah perilaku petani. Perlu bukti. Kalau sudah bisa melihat sendiri, akhinya mereka bilang ke saya, ’Pak Kus benar juga ya’” ungkapnya.

Belajar dari sejumlah persoalan itulah, Kuswanto kini mulai melihat hasil dari usaha Sadhana mengembangkan kemitraan. Petani tembakau di Sikur bisa dikatakan telah cukup maju. Mereka pun, sekarang mulai diajari berinvestasi dan tidak melalu menggantungkan nasib pada tembakau.

Pola kemitraan dengan petani yang digagas oleh Sadhana juga mengajarkan usaha tani terintegrasi dan berkelanjutan. Dalam satu tahun, untuk periode Desember—Maret lahan sawah milik petani ditanami padi. Lalu, pada Mei—Agustus diganti dengan tanaman tembakau. Sedangkan, periode Oktober—November diselingi tanaman jagung. ”Secara berkelanjutan kami juga megusahakan peternakan.”

***

KINI berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi NTB, luas areal yang telah ditanami masih sekitar 20.000 hektare dari potensi total lahan sekitar 58.000 hektare. Lahan tembakau virginia terluas terdapat di Kabupaten Lombok Timur, sekitar 14.000 hektare. Budidaya Virginia melibatkan sedikitnya 12.000 petani, terdiri dari 8.000 petani binaan pada 13 perusahaan dan 4.000 petani swadaya.

Produksi tembakau Lombok dari tahun ke tahun sejak 1995 juga terus meningkat seiring dengan mulai masuknya pola kemitraan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan rokok nasional. Puncak booming pada 2000 dengan produksi hingga 38.000 ton, padahal pada 1995 masih 7.000 ton. Sedangkan pada tahun ini, produksi tembakau lombok ditargetkan mencapai 39.560 ton.

Namun, pada 2001 terjadi penurunan produksi karena ratusan ton hasil panen sempat tidak tertampung oleh produsen rokok. Akibatnya, petani mulai ragu menanam tembakau seiring dengan keluarnya Surat Edaran Gubernur NTB Harun Al Rasyid tanggal 22 Januari 2001, yang mengingatkan petani agar mempertimbangkan perlu tidaknya menanam tembakau saat itu. Pertimbangan itu terutama bagi petani swadaya, yaitu petani yang menanam dengan biaya sendiri.

Karena kelebihan panen, puluhan petani swadaya terpaksa bekerja ke Malaysia untuk menutup utang. Bahkan sempat muncul kelakar di antara para petani, menanam tembakau harus siap jurus tiga M (3 M), yaitu Mekkah, Malaysia, dan Mati. Keuntungan dari panen tembakau dapat dipakai pergi beribadah haji, tetapi mungkin juga petani harus memilih pergi ke Malaysia mencari pekerjaan untuk melunasi utang, atau bangkrut alias mati.

Keterlibatan perusahaan-perusahaan besar di Lombok seperti PT HM Sampoerna dan PT Djarum sedikit mengurangi persoalan petani tembakau, seperti kestabilan harga dan penampungan hasil produksi secara tetap. Bahkan, perusahaan-perusahaan mitra ini tidak menutup kemungkinan bersedia menampung hasil virginia dari petani swadaya.

Harga terendah tembakau virginia di Lombok berkisar Rp9.000 per kilogram dan tertinggi sekitar Rp 25.000 per kilogram. Hal ini tergantung dari tingkat kualitas tembakau (grade). Sekarang ini lembaran tembakau virginia yang berwarna kuning kehijauan (lime) lebih diminati dan berkualitas tinggi. Tingkat kualitas itu bergeser dari sebelumnya yang disukai, yaitu warna oranye.

Permasalahan lain yang masih dihadapi adalah melambungnya harga minyak tanah yang dibutuhkan untuk bahan bakar omprong, kompor pengering tembakau. Perusahaan mitra biasanya memberikan jatah petani binaan sekitar 20 drum (600 liter) minyak tanah dari 30 drum hingga 40 drum kebutuhan setiap panen. Namun, petani swadaya semakin tergerus karena harga minyak tanah dapat mencapai Rp1.800 per liter dari harga standar Rp700.

PT Sadhana Arifnusa sebagai perusahaan mitra mencoba mengantisipasi dengan membuat terobosan omprong dengan bahan bakar batu bara. ”Tapi, sanggupkah pemerintah menyediakan sekitar 150 ribu ton batu bara setiap musim panen,” kata Kuswanto.

Kemitraan petani dengan 13 perusahaan rokok itu didasari atas hubungan sinergis, saling menunjang dan menghidupi di antara keduanya. Keuntungan kemitraan pun telah dinikmati petani-petani binaan. Banyak di antara mereka yang telah bermitra lebih dari lima tahun sudah bisa menunaikan ibadah haji.

****

NAMUN, di balik kisah keberhasilan itu, perjalanan petani Lombok dalam menanam tembakau terbilang unik. Begitu pula dengan cara mereka bermitra. Kadang-kadang godaan muncul dari pihak ketiga yang selalu mengimingi-imingi keuntungan lebih kepada petani.

Pihak ketiga itu adalah para spekulan yang membawa truk-truk Fuso. Mereka datang langsung ke petani ketika panen, dan kemudian pergi begitu saja. Dampaknya harga tembakau di pasaran menjadi rusak.

Andrew Cockburn, Menejer Produksi PT Sadhana Arifnusa menyebut mereka ibarat penyakit kanker dengan perilaku cow boy. Para sepekulan itu merupakan ancaman serius. ”Ini ancaman yang harus cepat disikapi,” tuturnya yang sudah 13 tahun bekerja menjadi konsultan dalam pembinaan petani Lombok.

Dia mengatakan, kehadiran spekulan itu berpotensi merusak kebiasaan petani tembakau Lombok yang telah terdidik. Sebab, petani akan terdorong berperilaku seperti semula dengan mengabaikan strandar ketat terhadap teknik budidaya dan pascapanen tembakau Virgina. ”Jadi asal-asalan lagi.”

Lebih jauh Andrew mengkhawatirkan, nasib Virginia Lombok dapat menyusul tanaman sejenis di Bojonegora yang telah hancur akibat kompetisi para pembeli yang mengabaikan etika pembinaan.

”Bukan kami tak mau berkompetisi. Tapi, kalau ingin bersaing harus sehat. Ikut membina petani, memiliki gudang seperti kami ini. Tidak asal ambil dari petani. Kalau begini terus, investasi akan macet. Dan, petani yang rugi,” katanya.

Padahal, Andrew Cockburn optimistis tembakau Virginia Lombok akan mendapat tempat terbaik di perusahaan-perusahaan rokok nasional. Akhirnya, mereka pun akan dengan sendirinya mengurangi impor tembakau virginia dari Brasil, Malaysia, atau negara lainnya. ”Petani- petani Lombok memiliki semangat tinggi untuk maju dan mampu bekerja sama, itu kelebihannya,” ujarnya.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Dinas Perkebunan NTB, Shahabuddin Sadar mengungkapkan, pihaknya telah mengeluarkan dua perangkat aturan, yaitu Peraturan Daerah ( Perda ) NTB Nomor 4 tahun 2006 dan Peraturan Gubernur (Pergub ) NTB No. 2 tahun 2007 untuk mengatasi persoalan tembakau.

Di dalamnya, ujar dia, perusahaan harus bermitra dengan petani jika ingin berinvestasi di perkebunan tembakau. Apabila hal ini dilanggar, maka pemerintah daerah akan melakukan teguran lisan, tertulis, hingga sanksi administratif berupa pencabutan izin usaha. (turyanto)

Posted in: Agribisnis