Revitalisasi Perkebunan dalam Dilema

Posted on Desember 11, 2008

1


sawitPROGRAM revitalisasi perkebunan yang dicanangkan pemerintah untuk tiga komoditas unggulan menghadapi sejumlah dilema di tingkat petani. Khusus bagi komoditas kelapa sawit, petani di sektor usaha tersebut kini tengah harap-harap cemas.

Sebab, program peremajaan (replanting) yang telah dikerjakan pemerintah melalui Departemen Pertanian (Deptan) sejak tahun ini sampai tiga tahun ke depan berpotensi mengurangi pendapatan bulanan yang selama ini mereka peroleh.

Terutama, saat kebun yang lama dibongkar, lantas ditanami bibit sawit baru, maka petani akan menunggu selama lima tahun lagi untuk kembali memperoleh hasil tandan buah segar. Dan, bisa dipastikan dalam kurun waktu tersebut, praktis pendapatan yang mereka dapat akan berkurang.

Sementara, sampai kini tak sedikit dari petani kelapa sawit di beberapa daerah di tanah air yang belum memiliki altenatif usaha, selain berkebun. Lebih jauh lagi, jika petani sampai menganggur dan tak memperoleh penghasilan tambahan, maka ditakutkan muncul kerawanan sosial di desa mereka tinggal.

“Untuk hidup mengandalkan dari tabungan saja, tentu sangat tidak mungkin. Karena itu, diperlukan usaha sampingan. Saya berharap pemerintah ikut memikirkan,” kata Karso petani sawit di Desa Air Putih, Pasir Penyu, Idragirihulu, Riau, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, selain pemerintah, perusahaan inti sebagai mitra juga perlu memberikan bantuan kepada petani agar tetap memperoleh uang tambahan. Dia sendiri mengakui, peremajaan kebun sawitnya yang telah menua memang sangat diperlukan. Tetapi, perlu upaya dari semua pihak yang mendorong petani sawit memiliki usaha altenatif, selain berkebun.

”Saya sendiri masih belum tahu cara menanam jagung, padi. Lalu, pasarnya kemana? Jadi, bisa-bisa saja ada tumpang sari antara sawit dan tanaman pangan yang lain. Tapi kan, cara dagangnya juga perlu diajari,” tuturnya.

Miswanto, pengurus Koperasi Unit Desa (KUD) Usaha Tani Mandiri di Desa Air Putih juga menyadari masa-masa suram akan dilalui petani di daerahnya saat program revitalisasi perkebunan untuk kelapa sawit dimulai. Pendapatan per bulan yang mencapai Rp6,5 juta bisa menguap begitu saja. Parahnya, kondisi ini akan terjadi selama lima tahun ke depan.

Seperti diketahui, hingga Juli 2007, Deptan telah melaksanaan program revitalisasi tersebut pada luasan kebun 56.411 hektare dari target seluas 473 ribu hektare tahun ini. Ditargetkan selama 2007-2010, pemerintah akan merevitalisasi perkebunan seluas 2 juta hektare, yang meliputi komoditas kelapa sawit 1,5 juta hektare, karet 300 ribu hektare dan kakao 200 ribu hektare.
Program revitalisasi perkebunan tersebut juga mencakup perluasan lahan seluas 1,53 juta hektare, peremajaan tanaman 429 ribu hektare dan rehabilitasi tanaman 36 ribu
hektare.

Sedangkan pada 2007, target revitalisasi perkebunan mencapai 473 ribu hektare mencakup 387 ribu hektare perluasan areal, 79 ribu hektare peremajaan
tanaman dan 7.000 hektare rehabilitasi tanaman.

”Harus ada jalan keluar bagi petani perkebunan sawit di desa. Bisa diajari berdagang atau yang lain. Kami melalui KUD sudah membuat mini market. Di harapkan bisa memasok kebutuhan anggota,” tutur Miswanto.

Petugas Pembina PIR (Perkebunan Inti Rakyat) Dinas Perkebunan Riau, Ismedi mengatakan, peremajaan perkebunan sawit memang tak sekedar membutuhkan dana untuk pengadaan tanaman, tetapi juga biaya pendukung bagi hidup petani selama peremajaan berlangsung.

Menurut dia, selama masa peremajaan maka tanaman tidak bisa berproduksi hingga masa empat tahun, padahal petani tetap memerlukan biaya hidup. Karena itu, ujar dia, perusahaan inti juga harus membantu mitra untuk mengatasi persoalan ini. Setidaknya, dengan pola kemitraan petani sawit bisa terus bekerja dan mendapatkan penghasilan.

”Saya sedang mengajarkan mereka menanam jagung, padi gogo sebagai sela di antara tanaman sawit yang masih kecil. Jadi, ini bisa menjadi pekerjaan sampingan bagi petani,” katanya.

Direktur Budidaya Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Deptan, Mukti Sardjono mengungkapkan, realisasi perkebunan pola inti plasma, hingga 2005 secara nasional telah mencapai 306.625 hektare yang dikelola inti dan 784.007 hektare dikelola petani plasma.

Dari luasan tersebut yang berada pada PIR-Trans untuk inti mencapai 140.299 hektare dan plasma 386.006 hektare. Sedangkan melalui PIR-BUN dikelola inti seluas 166.326 hektare dan petani plasma 398.001 hektare.

”Program revitalisasi perkebunan ini untuk membangun perkebunan rakyat yang melibatkan mitra usaha. Jadi agar mereka nanti bisa mendapatkan pendapatan yang lebih besar,” jelasnya.

***

KONDISI tempat tinggal nun jauh dari kota, memang ikut memberikan tempaan kepada para petani kelapa sawit di Indragiri Hulu, Riau untuk mandiri. Tetapi, kendati begitu mereka masih berharap kemitraan yang dijalin dengan perkebunan inti dapat bernilai lebih dari sekedar pembinaan dan hubungan saling menguntungkan lainnya.

Dalam hal pupuk misalnya. Petani sawit di Riau mengakui sangat kesulitan untuk mendapatkan urea. “Di samping sulit mendapatkan pupuk urea, harganya pun tidak menentu,” kata Miswanto pengurus Koperasi Unit Desa (KUD) Usaha Tani Mandiri Desa Air Putih, Pasir Penyu, Inhu yang 99 persen kreditnya telah lunas.

Setelah kredit mereka lunas, menurut dia, petani memiliki semangat baru dan paradigma baru dalam menjalin kemitraan dengan perusahaan inti. Inginnya, perusahaan inti membantu upaya petani untuk meningkatkan nilai tambah usaha kebun sawit. Lebih jauh, petani bisa saja mendapatkan proporsi modal perusahaan berupa saham sehingga merasa ikut memiliki.

Ketua KUD Usaha Tani Mandiri, Sutarno Hudin menyatakan, perusahaan inti juga perlu mendukung program pupuk organik, sehingga petani tidak lagi tergantung pada pupuk kimia dari pabrik. Apalagi, limbah sawit di pabrik pengolahan milik perusahaan inti belum dimanfaatkan. Limbah tersebut bisa diolah menjadi pupuk juga pakan ternak.

Peluang lainnya adalah dengan mengembangkan usaha tani sayuran dan ternak sapi. Menurut Sutarno, efektif kerja petani sawit dalam sebulan hanya 10 hari, 20 hari lainnya bisa dicarikan kesibukan dengan menanam sayur dan ternak sapi. “Di sini harga sapi cukup mahal yakni Rp5-6 juta untuk umur 2,5 tahun, sedangkan pedet umur 10 bulan harganya Rp3 juta. Ini kan peluang bagi kami,” tuturnya.

Untuk pengembangan sapi tersebut, menurut Sutarno, KUD tidak mau menggantungkan para program-program pemerintah. Dia mengatakan, pihaknya telah mengembangkan ternak sapi diintegrasikan dengan kebun sawit yang modalnya berasal dari anggota. “Saat ini KUD sudah memiliki 45 ekor sapi,” jelasnya.

Para petani berharap populasi ternak sapinya akan terus bertambah, sehingga produksi pupuk kandangnya mencukupi untuk keperluan pupuk tananam sawitnya.

Lebih jauh, Sutarno mengusulkan, agar petani sawit turut mendapatkan saham di perusahaan. Dengan begitu, ujar dia, petani bisa merasakan memiliki dan ikut menjaga nasib perusahaan. “Jadi dalam bermitra tak sebatas mendapat modal usaha, dibina, dan memproduksi buah sawit. Tapi bisa lebih dari itu.” (tur)

Ditandai:
Posted in: Agribisnis